Darmin: Pertumbuhan PPN dan Konsumsi tak Harus Sejalan

Suci Sedya Utami    •    Jumat, 09 Feb 2018 16:08 WIB
pajakkonsumsi rumah tangga
Darmin: Pertumbuhan PPN dan Konsumsi tak Harus Sejalan
Menko Perekonomian Darmin Nasution. (FOTO: medcom.id/Annisa Ayu)

Jakarta: Menko Perekonomian Darmin Nasution tak heran dengan ketidaksinkronan data pertumbuhan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan konsumsi. Meski memang PPN dipungut dari penjualan barang-barang konsumsi masyarakat. Sehingga apabila PPNnya bagus, maka diartikan konsumsinya pun bagus.

Darmin juga berpendapat bahwa pertumbuhan PPN tak sepenuhnya berasal dari konsumsi, namun juga kontribusi lain di dalamnya yang membuat PPN tumbuh tinggi.

"PPN kan bukan hanya konsumsi, PPN itu bisa juga dar bahan baku, barang modal, itu enggak harus sejalan sepenuhnya, karena ada kelompok lain," kata Darmin di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat, 9 Februari 2018.

Berdasarkan data Data Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan sepanjang 2017 menunjukkan adanya pertumbuhan PPN yang sebesar 16 persen atau yang mulai bergeliat atau mengalami peningkatan dari tahun 2016 yang tumbuh negatif 2,7 persen, ternyata tak diimbangi oleh data konsumsi masyarakat yang malah mengalami perlambatan.

Namun, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi sepanjang 2017 tumbuh 4,95 persen, atau lebih rendah dibanding 2016 yang tumbuh di atas lima persen (5,005 persen).

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pun mempertanyakan data BPS apakah telah memasukan semua komponen pengeluaran dalam menghitung konsumsi. Meski dirinya tahu ekonomi digital yang tengah berkembang saat ini memang belum bisa tercatat.

"Kami akan terus melihat dan berkoordinasi dengan BPS apakah mereka aman dari keseluruhan konsumsi masyarakat yang bisa ter-capture, bukan hanya masalah digital, tapi dari sisi yang disebut saving konsumsi yang tidak terekam dalam statistik yang dipegang BPS," kata Ani di Kemenkeu, Rabu, 7 Februari 2018.

Dia mengakui dalam dua tahun terakhir memang terjadi perlambatan konsumsi akibat penurunan harga komoditas sehingga masyarakat memilih menahan konsumsi. Terutama, kata Ani, tahun 2016 dirasa paling berat, dan 2017 seharusnya sudah mulai pulih.

Dari sisi pertumbuhan PPN yang tumbuh signifikan, lanjut Ani, menggambarkan satu kombinasi dari sisi produksi dan konsumsi atau permintaan. Dari data pertumbuhan 2017, sektor makanan, pakaian, otomotif, perdagangan dan komunikasi tumbuh cukup positif.

"Itu berarti ada share dari sisi produksi sehingga PPN bisa di-collect oleh pemerintah, namun dari sisi konsumsi (seharusnya) juga terefleksi," jelas Ani.

 


(AHL)