Tugas Gubernur BI di Masa Depan Bakal Semakin Berat

   •    Selasa, 13 Feb 2018 10:07 WIB
bank indonesia
Tugas Gubernur BI di Masa Depan Bakal Semakin Berat
Ilustrasi logo BI. (Foto: MI/Panca Syurkani).

Jakarta: Presiden Joko Widodo harus mengajukan maksimal tiga nama kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) paling lambat pekan depan guna mengisi posisi Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo. Diketahui, masa jabatannya akan habis pada 24 Mei.

Sejauh ini terdapat empat nama, termasuk nama Gubernur BI saat ini yang sedang dipertimbangkan Presiden. Mereka Menteri Bappenas Bambang Brodjonegoro, mantan Menteri Keuangan Chatib Basri, dan Deputi Gubernur BI yang masa jabatannya akan habis pada April 2018, Perry Warjiyo.

Sejumlah pihak mengatakan tantangan bank sentral di masa depan akan berbeda karena terjadi perubahan di lingkungan domestik dan internasional. Seperti peralihan pengawasan perbankan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ataupun perubahan kebijakan suku bunga di luar negeri yang cenderung meningkat.




Kepala ekonom BCA David Sumual menilai keempat nama tersebut sama-sama kompeten. Terpenting, Gubernur BI yang dipilih harus mempunyai integritas dan internal governance yang baik. Selain itu, bersikap profesional dan prudent dalam manajemen moneter dan makro.

"Juga yang penting bisa menjaga kepercayaan pasar, stabilitas moneter, serta menjaga tingkat inflasi dan nilai tukar tetap stabil," jelasnya.

Pada 2018, ekonom Indef Bhima Yudhistira berpendapat tantangan menjaga stabilitas rupiah dan inflasi semakin berat. Ketidakpastian kebijakan Fed rate di bawah Jerome Powell, instabilitas geopolitik di Timur Tengah, reformasi kebijakan pajak AS, era inflasi tinggi, dan proteksionisme AS akan memengaruhi pergerakan nilai tukar.

"Inflasi pangan dan naiknya harga minyak mentah dan batu bara yang menekan administered price juga perlu dijinakkan. Tugas Gubernur BI ke depannya makin berat," pungkasnya.

Dengan makin beratnya tantangan yang dihadapi, Direktur CORE Mohammad Faisal berpendapat perlu ada penyegaran di posisi Gubernur BI.

Kepala Departemen Ekonomi CSIS Yose Rizal Damuri juga berpendapat yang sama. Ia mengatakan lebih baik posisi itu diisi Gubernur BI yang mempunyai latar belakang kebijakan moneter. (Media Indonesia)

 


(AHL)