Pengamat Prediksi Risiko Krisis Masih Kecil di 2018

M Rodhi Aulia    •    Rabu, 06 Dec 2017 11:21 WIB
ekonomi indonesia
Pengamat Prediksi Risiko Krisis Masih Kecil di 2018
Ilustrasi. (FOTO: ANTARA)

Jakarta: Chief Economist, Research & Advisory PT PPA Kapital Ferry Latuhihin memprediksikan risiko krisis masih kecil di 2018. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih mampu berada di kisaran lima persen.

"Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan konsumsi dan investasi yang tidak berubah dari tahun-tahun sebelumnya," tutur dia, dalam siaran persnya, di Jakarta, Rabu, 6 Desember 2017.

Selain itu,  ia memperkirakan, tingkat inflasi akan tetap terjaga di kisaran 3,5 persen. Pada sisi lain, imbal hasil obligasi akan tidak banyak berubah di tahun mendatang (6,93 persen untuk SBN 10 tahun).

"Namun, hal yang perlu dicermati saat ini ialah pasar saham, mengingat telah tingginya price earning ratio dan kemungkinan besar kenaikan suku bunga the Fed," jelasnya.

Selain itu, secara sektoral melihat pertumbuhan kredit bank yang masih single digit maka sektor properti cukup menjanjikan di semester II-2018.

Namun demikian, lanjut dia, sektor otomotif masih tetap datar, begitu juga dengan sektor manufaktur. Sedangkan sektor telekomunikasi cukup menjanjikan.

"Pertambangan masih bullish di 2018, hal ini disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi global, pembatasan suplai dari OPEC, dan tensi politik Timur Tengah dan Korea Utara," pungkasnya.

PT PPA Kapital ingin menunjukkan keseriusannya untuk menjadi private equity murni melalui kerja sama dengan investor-investor asing salah satunya endowment funds, dengan aktivitas lebih mengarah kepada investment banking.

PT PPA Kapital merupakan salah satu entitas anak dari PT PPA, didirikan berdasarkan Akta Pendirian Perusahaan Nomor 17 tanggal 17 Desember 2011, dibuat dihadapan Surjadi, S.H, Notaris di Jakarta dan telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. AHU-02691.AH.01.01, tahun 2012 tanggal 17 Januari 2012.

Langkah itu dilakukan bertujuan untuk dapat mengoptimalkan peluang investasi maupun pemberian jasa konsultasi keuangan baik dalam ruang lingkup untuk mendukung pelaksanaan restrukturisasi/revitalisasi BUMN yang dilakukan oleh PT PPA, maupun keterlibatan dalam proyek pemerintah maupun proyek swasta lainnya yang dapat memberikan nilai tambah.

 


(AHL)