Indonesia Tawarkan AS Alihkan Impor Tekstil

Husen Miftahudin    •    Selasa, 07 Aug 2018 07:44 WIB
imporekonomi indonesia
Indonesia Tawarkan AS Alihkan Impor Tekstil
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (Foto: Medcom.id/Husen Miftahudin)

Jakarta: Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok membuat Indonesia punya peluang untuk merebut pangsa pasar produk ekspor. Salah satunya produk tekstil ke Negeri Paman Sam yang nantinya diharapkan memberi efek positif terhadap perekonomian Indonesia di masa mendatang.

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengaku menawarkan AS untuk mengalihkan impor produk tekstil dari Tiongkok ke Indonesia. Upaya Enggar itu dilakukan saat melawat ke AS pada akhir Juli 2018 lalu.

"Pangsa pasar Indonesia ke AS hanya 4,5 persen, sementara impor tekstil dan garmen AS dari Tiongkok 26 persen. Dengan peningkatan tarif antara kedua negara itu, kita minta pasar ekspor kita diprioritaskan karena harga pasti lebih murah," ujar Enggar, di Kemendag, Jalan MI Ridwan Rais, Jakarta Pusat, Senin, 6 Agustus 2018.

Perdagangan produk tekstil Indonesia-AS bakal meningkat seiring penyerapan bahan mentah kapas AS yang kerap diimpor oleh Indonesia. "Kita akan absorb cotton mereka karena memang kita impor (kapas) dari sana," beber Enggar.

Soal kualitas, Enggar meyakinkan Pemerintah AS bahwa produk-produk tekstil Indonesia setara dengan Tiongkok. "Pengusaha sana pun mengakui kualitas kita tidak kalah (dari Tiongkok)," jelasnya.

Enggar mengaku lawatannya ke AS untuk meredam perang dagang. Indonesia siap menyerap berbagai produk AS yang kini mulai kesulitan ekspor lantaran Tiongkok menerapkan tarif bea masuk tinggi terhadap produk-produk ekspor AS.

"Tapi sebaliknya, tolong serap produk-produk Indonesia yang mereka alami kesulitan dengan harga naik dari Tiongkok," tutup Enggar.

AS dan Tiongkok tengah mempertimbangkan untuk menaikkan tarif sebesar 25 persen terhadap produk-produk impor yang berasal dari kedua negara tersebut. Kebijakan itu bakal segera diberlakukan bila salah satu dari negara itu memulai memberlakukan tarif tersebut.


(ABD)