BI Sebut Penguatan Rupiah Imbas dari Lambannya Ekonomi AS

Desi Angriani    •    Jumat, 08 Sep 2017 19:04 WIB
rupiah menguat
BI Sebut Penguatan Rupiah Imbas dari Lambannya Ekonomi AS
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara. (FOTO: MTVN/Eko Nordiansyah)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat jelang akhir pekan. Mata uang Garuda menguat 0,6 persen ke level Rp13.227 per USD pada Jumat 8 September 2017 pukul 10.24 WIB.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan, penguatan rupiah imbas dari lambannya pertumbuhan ekonomi negara Paman Sam dari yang diproyeksikan. Laju inflasi AS juga melandai di bawah dua persen year on year.

"Kan kalau dilihat trennya itu mata uang itu kami bicara dari awal tahun itu kan ada kekhawatiran ekonomi AS tumbuh lebih cepat dari perkiraan," kata Mirza ditemui di Kompleks Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin Jakarta, Jumat 8 September 2017.

Menurutnya, tren melambatnya kondisi perekonomian AS tersebut juga membuat dolar AS melemah terhadap mata uang global lainnya, terutama pada negara berkembang seperti Indonesia. Semula AS diduga bakal menaikan Fed Rate hingga naik empat sampai lima kali. Namun, kata Mirza sejauh ini AS baru menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali.

"Desember nanti change untuk naik sudah 25 bps. Itu membuat USD kurang menarik karena suku bunganya tidak jadi naik dan ekonomi AS tidak tumbuh lebih tinggi dari perkiraan. Itu semua membuat tren pembalikan, ekspektasi orang terhadap USD. USD terhadap mata uang global menurun," tutur dia.

Kendati demikian, penguatan rupiah dinilai memberikan dampak buruk bagi sektor ekspor, sedangkan pelemahan rupiah juga merugikan importir. Bagi bank sentral stabilnya mata uang Garuda penting untuk menjaga neraca perdagangan Indonesia.

"Bagi BI yang penting rupiah stabil. Rupiah terlalu kuat juga enggak baik buat neraca dagang. Rupiah yang bagus bagaimana? Yang mencerminkan ekuilibrium ekonomi, fundamental ekonomi, support neraca dagang surplus, juga inflasi rendah. Bukan berarti rupiah menguat terus bagus buat ekonomi," tandas Mirza.

Adapun kurs tengah Bank Indonesia juga menunjukkan penguatan ke level Rp13.284 per USD dari sebelumnya Rp13.331 per USD. Aliran dana masuk ke pasar obligasi domestik menjadi salah satu pendorong penguatan nilai tukar rupiah terhadap greenback.


(AHL)