Kebutuhan Investasi 2018 Capai Rp5.041 Triliun

   •    Rabu, 14 Jun 2017 10:47 WIB
rapbn 2018
Kebutuhan Investasi 2018 Capai Rp5.041 Triliun
Menkeu Sri Mulyani. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Keuangan Sri Mulyani memaparkan kebutuhan pembiayaan investasi pada 2018 hingga Rp5.041 triliun untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 5,4 persen atau Rp5.171 triliun untuk target pertumbuhan ekonomi 6,1 persen.

"Sumber pembiayaan diperoleh dari belanja modal perusahaan atau retained earning, IPO (penawaran saham perdana), dan rights issue yang didasarkan optimisme terjadi supply dari demand yang makin besar," kata Sri dalam rapat kerja pemerintah dengan Komisi XI DPR membahas asumsi dasar tahun anggaran 2018 di Jakarta, Selasa 13 Juni 2017.

Ia menjelaskan belanja modal dari korporasi sektor swasta ditargetkan Rp1.901 triliun dan pembiayaan investasi dari sisi pasar modal mencapai Rp882 triliun.

Sumber lainnya yaitu belanja modal BUMN beserta anak-anak perusahaannya pada 2018 ditargetkan sebesar Rp549 triliun. "Untuk BUMN, kami memantau dana penyertaan modal negara (PMN) yang telah dimasukkan BUMN dan kinerjanya. Kami akan melihat ekspansi belanja modal BUMN yang memperoleh PMN," kata Sri.


Sumber: Kemenkeu

Investasi langsung dalam bentuk PMA ataupun PMDN serta investasi pemerintah melalui belanja infrastruktur dalam APBN juga jadi sumber pembiayaan. Pada 2018, sumber pembiayaan dari investasi langsung direncanakan mencapai Rp819 triliun atau meningkat 22 persen ketimbang 2017.

Pemerintah, kata Sri, optimistis target itu dapat tercapai dengan memperhatikan perkembangan historis realisasi PMA dan PMDN beberapa tahun terakhir serta membaiknya iklim investasi.

Kemudian, sumber pembiayaan investasi berikutnya berasal dari penyaluran kredit perbankan untuk investasi melalui kredit modal kerja dan kredit investasi diharapkan mencapai Rp555 triliun.

Terkait dengan perekonomian Tiongkok, Sri mengatakan pemerintah mewaspadai hard landing dan stabilitas perekonomian mereka dalam jangka menengah. Perekonomian Tiongkok saat ini bergantung pada stimulus pemerintah dan tingkat utang korporasi yang makin tinggi. "Studi tingkat internasional dalam jangka menengah-panjang pertumbuhan ekonomi Tiongkok sedikit mendingin (stagnan) di level 5-6 persen," tukasnya.

Meski begitu, pungkas Sri, pemerintah tetap optimistis pertumbuhan ekonomi RI mencapai 5,4-6,1 persen pada 2018 dengan menjaga pertumbuhan konsumsi rumah tangga selain pula meningkatkan investasi. (Media Indonesia)


(AHL)