BI: Prospek Nilai Tukar Rupiah 2019 akan Membaik

Ilham wibowo    •    Jumat, 07 Sep 2018 14:01 WIB
rupiah menguatrupiah melemahkurs rupiah
BI: Prospek Nilai Tukar Rupiah 2019 akan Membaik
Ilustrasi. (FOTO: MI/Susanto)

Jakarta: Kepala Grup Riset Ekonomi Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Reza Anglingkusumo menyebut nilai tukar rupiah akan kembali menguat pada tahun mendatang. Perubahan itu seiring penumbuhan ekonomi di 2018 yang terus meningkat.

"BI melihat prospek nilai tukar rupiah diperkirakan tidak seberat 2018 ini seiring terkendalinya laju inflasi dan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan," ucap Reza dalam Diskusi Panel Investor Gathering dengan tema "Menyikapi Volatilitas Perdagangan Saham di Bursa Efek Indonesia" di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat, 7 September 2018.

Upaya berbagai pihak dalam menekan tren defisit transaksi berjalan di 2018 memberikan optimisme yang baik. Realisasi target pertumbuhan dan stabilisasi ekonomi pun diharapkan dapat tercapai.

"BI memproyeksikan penumbuhan ekonomi 2018 dan 2019 masing-masing berkisar di 5,0-5,4 persen dan 5,1-5,5 persen. Adapun laju inflasi diperkirakan stabil di kisaran 3,5 persen +- 1 persen untuk 2018 dan 2019," ungkapnya.

Ia menyampaikan bahwa ketidakpastian ekonomi global yang meningkat jadi tantangan di tengah pertumbuhan ekonomi yang tidak merata yakni kuatnya laju ekonomi AS dibandingkan negara di kawasan Eropa, Jepang, serta Tiongkok. Ketidakpastian itu turut diikuti dengan kenaikan Fed Fund Rate, ketegangan perdagangan antara AS dengan sejumlah negara, serta risiko hambatan dari gejolak ekonomi di Turki dan Argentina.

"Ketidakpastian ini memicu pembalikan modal asing dan apresiasi nilai tukar dolar AS secara luas sehingga turut menekan nilai tukar mata uang global khususnya negara emerging market termasuk Indonesia," paparnya.

Tak hanya itu, BI melihat meningkatnya tren impor perdagangan di Indonesia mencerminkan meningkatnya permintaan dan aktivitas ekonomi domestik. Kondisi ini turut berdampak pada meningkatnya defisit transaksi berjalan yang mencapai USD8 miliar di kuartal II-2018.

Menurut Reza dibutuhkan penguatan di bidang ekspor barang dan jasa sehingga mampu menekan tren defisit transaksi berjalan di 2018 sesuai dengan target di kisaran 2,5-3,0 persen dari GDP.

"Secara khusus untuk menekan defisit transaksi berjalan, BI mendukung implementasi program B20, sinergi dalam akselerasi penerimaan devisa, dan serta mendukung kebijakan fiskal untuk mendorong ekspor dan mengurangi impor," tandasnya.

 


(AHL)


Merpati akan Lunasi Utang Usai Maskapai Beroperasi

Merpati akan Lunasi Utang Usai Maskapai Beroperasi

1 day Ago

Merpati Nusantara Airlines berjanji akan melunasi utang dan pesangon mantan karyawannya. Janji …

BERITA LAINNYA