Hati-Hati Membaca Simtom

   •    Selasa, 14 Nov 2017 11:01 WIB
pertumbuhan ekonomi
Hati-Hati Membaca Simtom
Ilustrasi. (FOTO: ANTARA)

SYMPTOM, simtom atau simtoma adalah gejala yang diceritakan pasien kepada dokter mengenai apa yang dirasakan tidak enak di tubuhnya.

Adakalanya untuk memperkuat penarikan kesimpulan, dokter membutuhkan pemeriksaan lanjutan seperti tes laboratorium untuk menemukan sign atau tanda tentang penyakit yang diderita pasiennya.

Hari-hari ini kita kembali diributkan debat mengenai pelemahan daya beli seiring dengan keluarnya data Badan Pusat Stastik (BPS) yang menyebutkan konsumsi rumah tangga pada triwulan III tahun ini tumbuh 4,93 persen atau tumbuh melambat dari posisi sebelumnya di 4,95 persen.

Pertumbuhan yang lebih rendah 0,02 persen itu seakan mengonfirmasi dugaan bahwa daya beli masyarakat melemah. Apalagi sejumlah data serta laporan penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan di sektor-sektor terkait dengan konsumsi menunjukan pertumbuhan yang melemah.

AC Nielsen, misalnya, menghitung pertumbuhan penjualan produk fast moving consumer goods (FMCG) baru tumbuh 2,7 persen tahun ini dari rata-rata per tahun 11 persen. Pengusaha yang melihat realisasi penjualan tak sesuai dengan target pun ikut-ikutan berteriak; ekonomi lesu karena daya beli melemah.

Di sisi lain, kita tidak bisa menafikan angka pertumbuhan ekonomi triwulan III tahun ini yang membaik ke level 5,06 persen. Pertumbuhan ekonomi yang merupakan agregat (penjumlahan) dari seluruh nilai barang dan jasa yang dihasilkan sebuah negara bisa diumpamakan seperti sebuah balon.

Ukurannya akan membesar seiring bartambahnya input yang masuk. Karena itu, agak sulit memahami sebuah fakta bahwa daya beli melemah di tengah ekonomi yang tumbuh kuat.

Kembali ke soal simtom, kita harus hati-hati membaca berbagai simtom atau fenomena yang bermunculan itu agar diagnosisnya tidak missleading.

Bisa jadi seperti orang sakit asam lambung tapi harus mengonsumsi obat jantung hanya karena dokter melihat pada faktor nyeri dada yang dikeluhkan pasiennya tanpa terlebih dulu melakukan pemeriksaan endoscopy atau EKG.

Akan celaka tiga belas bila terjadi salah diagnosis penyakit yang mendera perekonomian. Obat yang dimimum pun tidak akan mujarab, bahkan berdampak negatif.

Memainkan isu daya beli merupakan hal yang seksi untuk digulirkan hingga kapanpun. Terlebih karena mandat bagi semua pemerintahan ialah menyejahterakan rakyatnya.

Kita berharap pemerintah lebih strategis dalam merespons isu tersebut agar tidak salah dalam mengambil langkah. (Media Indonesia)

 


(AHL)

Pemerintah Masih Godok Pembentukan <i>Holding</i> BUMN Jasa Keuangan

Pemerintah Masih Godok Pembentukan Holding BUMN Jasa Keuangan

4 hours Ago

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih menggodok pembentukan holding BUMN di sektor …

BERITA LAINNYA