2018, Ekonomi RI Diramal Tumbuh 5,4%

Desi Angriani    •    Kamis, 07 Dec 2017 11:31 WIB
ekonomi indonesia
2018, Ekonomi RI Diramal Tumbuh 5,4%
Ilustrasi. (FOTO: MI/RAMDANI)

Jakarta: Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil sejak 2014 lalu terus berada di kisaran lima persen. Konsumsi oleh sektor privat dan rumah tangga juga belum banyak mengalami perubahan sejak awal 2017.

Namun dengan situasi makro yang sama, pertumbuhan ekonomi 2018 diproyeksi di kisaran 5,4 persen jika inflasi berada di kisaran tiga sampai empat persen dan suku bunga riil di level 10 persen.

Demikian disampaikan Ketua Program Studi Manajemen dan Manajer Program Kerja sama HSBC-PSF di Fakultas Bisnis Sampoerna University Wahyoe Soedarmono dalam paparan Indonesia Economic and Financial Sector Outlook (IEFSO) 2018, di Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis, 7 Desember.

"Walaupun demikian, kami memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai sebesar 5,17-5,24 persen pada 2017, dan 5,3-5,4 persen pada 2018, jika inflasi di kisaran 3,0-4,0 persen dan suku bunga riil di level 10 persen," ungkapnya.

Wahyoe mengungkapkan tahun depan Indonesia masih akan dibayangi ketidakpastian ekonomi global yang dapat mendorong peningkatan defisit neraca transaksi berjalan.

Hal ini akan menyebabkan instabilitas makroekonomi, mengingat struktur modal asing yang masuk ke Indonesia masih didominasi investasi portofolio jangka pendek daripada investasi asing langsung (foreign direct investment).

Selain itu, dari sisi domestik pertumbuhan utang luar negeri dari pemerintah juga menunjukkan tren peningkatan. Pertumbuhan utang luar negeri pemerintah mencapai posisi tertinggi, yaitu 46 persen selama 2015-2017. Disusul utang luar negeri sektor swasta selain institusi keuangan (36 persen) di periode yang sama.

Peningkatan utang luar negeri ini mempunyai dua implikasi penting. Di satu sisi, ruang fiskal akan meningkat, sehingga mendorong belanja pemerintah untuk infrastruktur dan sektor produktif lainnya sehingga mendorong investasi swasta dan pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya peningkatan utang luar negeri pemerintah dapat meningkatkan suku bunga.

"Sehingga menghambat investasi sektor swasta (efek 'crowding-out')," imbuh dia.

Head of Global Markets PT Bank HSBC Indonesia Ali Setiawan menambahkan fundamental ekonomi telah membaik, terutama di bidang export dan ekspektasi peningkatan belanja pemerintah untuk social welfare.

Untuk itu diperlukan beberapa dukungan kebijakan lebih lanjut untuk mewujudkan potensi pertumbuhan Indonesia.

"Meski bisa dilihat dari intermediasi kredit yang belum maksimal menunjukkan siklus pemulihan yang masih lambat, kita dapat melihat fundamental ekonomi," jelasnya.

Sementara itu, konsumsi pada semester II-2018 dipercaya meningkat dibandingkan 2017 karena adanya dukungan belanja pemerintah dan juga private consumption yang cenderung meningkat mendekati periode pemilu.

"Memasuki tahun pemilu September memasuki nominasi Presiden, konsumsi akan meningkat di semester II-2018," tutupnya.

 


(AHL)