Respons Menkeu Usai IMF Revisi Pertumbuhan Ekonomi Global

Eko Nordiansyah    •    Selasa, 09 Oct 2018 13:28 WIB
ekonomi duniaIMF-World Bank
Respons Menkeu Usai IMF Revisi Pertumbuhan Ekonomi Global
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Foto: Kementerian Keuangan)

Nusa Dua: Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Republik Indonesia (RI) menilai Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) punya alasan tersendiri untuk menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia. Pertumbuhan global diproyeksi hanya 3,7 persen di 2018 atau lebih rendah 0,2 persen dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,9 persen.

"Lingkungan yang kita hadapi sekarang dengan adanya kenaikan suku bunga dan nilai tukar serta dia sebabkan beberapa aspek dari agregat permintaan kita yang akhirnya terpengaruh," kata Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, di Nusa Dua, Bali, Selasa, 9 Oktober 2018.

Dirinya menambahkan pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) tetap akan merespons perkembangan global. Beberapa di antaranya adalah mendorong ekspor dan mengurangi impor, serta kebijakan bank sentral untuk menaikkan suku bunga acuan.

"Kita melihat ada pengaruhnya terhadap investasi dan nilai tukar. Kami harap impor turun dan ekspor baik. Kalau responsnya lebih cepat harusnya bisa canceling. Tapi kita lihat bagaimana respons industri kita terhadap lingkungan yang kita hadapi," ungkap dia.

Sebelumnya, Chief Economist IMF Maurice Obstfeld menjelaskan penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi global ini akibat dari ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan negara-negara yang menjadi mitra dagang utama.

Maurice menuturkan laporan terakhir yang dipublikasikan pada April lalu hingga Oktober 2018 menunjukkan ekspansi yang kurang seimbang dari yang diharapkan. Selain itu, pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat masih sangat kuat, didukung oleh procyclical. Namun, ekspansi fiskal kemungkinan bisa membebani AS dan pertumbuhan global di kemudian hari.

"Tetapi kami telah menurunkan prospek pertumbuhan jangka pendek untuk kawasan euro, Korea, dan Inggris. Penilaian ulang kami lebih dramatis untuk pasar negara berkembang. Kami melihat pertumbuhan berkurang di Amerika Latin (terutama Argentina, Brasil, dan Meksiko), Timur Tengah (terutama Iran), dan Eropa (terutama Turki)," pungkasnya.

 


(ABD)


Kepailitan Sariwangi Tidak Memengaruhi Industri Makanan

Kepailitan Sariwangi Tidak Memengaruhi Industri Makanan

2 days Ago

Kepailitan Sariwangi AEA dan anak usahanya yaitu PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung (…

BERITA LAINNYA