Darmin Sebut Anomali Rupiah Bukan karena Faktor Ketidakpercayaan

Suci Sedya Utami    •    Jumat, 18 May 2018 13:34 WIB
pertumbuhan ekonomikurs rupiahekonomi indonesia
Darmin Sebut Anomali Rupiah Bukan karena Faktor Ketidakpercayaan
Menko Perekonomian Darmin Nasution (MI/PANCA SYURKANI)

Jakarta: Anomali pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) masih terjadi. Kenaikan suku bunga acuan BI 7 Days Reserve Repo Rate nyatanya belum menenangkan pasar keuangan dan membuat nilai tukar rupiah menguat dalam jangka waktu dekat.

Kurs justru masih melemah pada pembukaan pagi tadi. Mengutip Bloomberg, Jumat, 18 Mei 2018, nilai tukar rupiah perdagangan pagi dibuka menghijau di Rp14.053 per USD. Sedangkan menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp13.855 per USD.

Namun, Menko Perekonomian Darmin Nasution enggan mengomentari efek kenaikan suku bunga acuan terhadap belum menguatnya nilai tukar rupiah terhadap USD sekarang ini. Hanya saja, Darmin meyakini, volatilitas rupiah yang masih terjadi bukan karena ketidakpercayaan pasar pada ekonomi Indonesia.

"Tidak juga (bila dibilang pasar sedang tidak percaya kepada ekonomi Indonesia)," kata Darmin, di Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat, 18 Mei 2018.



Sebab, lanjut mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) ini, apabila melihat capaian ekonomi Indonesia dari sisi pertumbuhan ekonomi menunjukkan angka yang relatif baik terutama untuk laju investasi yang terekam dalam Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 7,95 persen.

"Itu langkah yang betul untuk menjawab situasi sekarang," ujar Darmin.

Sebelumnya, Bank Indonesia memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebanyak 25 basis poin (bps) menjadi sebesar 4,50 persen. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh bank sentral sebelumnya yakni bertujuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Keputusan terkait suku bunga acuan juga diikuti dengan langkah bank sentral menaikkan 25 bps suku bunga deposit facility menjadi sebesar 3,75 persen dan lending facility menjadi sebesar 5,25 persen serta berlaku efektif sejak 18 Mei 2018.

 


(ABD)