Inflasi 2019 Diprediksi Tetap Terjaga

   •    Minggu, 16 Dec 2018 16:00 WIB
inflasiekonomi indonesia
Inflasi 2019 Diprediksi Tetap Terjaga
Ekonom Universitas Hasanuddin Muhammad Syarkawi Rauf (MI/PANCA SYURKANI)

Jakarta: Ekonom Universitas Hasanuddin Syarkawi Rauf mengatakan meski diliputi ketidakpastian lantaran tengah dalam tahun pemilu, pemerintah memiliki langkah-langkah antisipasi terutama dalam menjaga angka inflasi.  

Ia melihat perkembangan inflasi secara nasional dalam empat tahun terakhir menunjukkan kecenderungan yang semakin menurun. Pada 2013, inflasi masih sangat tinggi mencapai 8,38 persen. Pada tahun selanjutnya inflasi masih menyentuh 8,36 persen. Penurunan inflasi sangat signifikan terjadi mulai 2015 yakni menjadi hanya 3,35 persen. Kemudian turun lagi ke 3,02 persen pada 2016.

Walaupun sedikit merangkak naik pada 2017 ke angka 3,61 persen  pada 2017, inflasi masih dianggap dalam batas yang bisa ditolerir. Adapun, sepanjang tahun ini, inflasi hanya sebesar 3,23 persen.

"Perkembangan inflasi yang semakin rendah salah satunya disebabkan oleh keberhasilan pemerintah mengendalikan harga-harga kebutuhan pokok, khususnya bahan makanan yang selama ini menjadi penyumbang inflasi terbesar," ujar Syarkawi di Jakarta, Minggu, 16 Desember 2018.

Angka inflasi yang membaik dalam empat tahun terakhir disebabkan oleh ketersediaan bahan-bahan kebutuhan pokok, khususnya beras, bawang putih, minyak goreng, terigu, gula pasir putih, cabai, bawang merah dan kebutuhan pokok lainnya dalam jumlah serta waktu yang tepat, khususnya pada saat momen hari-hari besar keagamaan.

Hal itu dapat dilihat dari data BPS yang menunjukkan bahwa inflasi bahan makanan pada 2014 masih sekitar 10,57 persen, turun menjadi 4,93 persen pada 2015, 5,69 persen pada 2016, 1,26 persen  pada 2017, dan diperkirakan hanya sekitar 1,69 persen pada tahun ini.

Lebih lanjut menurut Muhammad Syarkawi Rauf, andil bahan makanan terhadap pembentukan inflasi juga mengalami penurunan dari 2,06 persen di 2014 menjadi 0,98 persen di 2015. Kemudian menjadi 1,21 persen di 2016, 0,25 persen di 2017, dan diperkirakan hanya 0,34 persen pada 2018.

Inflasi yang semakin rendah, ucap Syarkawi, berdampak pada daya beli masyarakat yang semakin baik. Artinya dengan peningkatan pendapatan yang lebih tinggi dari inflasi, masyarakat bisa membeli kebutuhan pokok dalam jumlah yang lebih banyak. Hal ini juga berdampak terhadap penurunan jumlah penduduk miskin.

"Inflasi rendah memberi kesempatan kepada masyarakat berpendapatan tetap untuk menabung sehingga tersedia cukup dana pihak ketiga di perbankan untuk membiayai investasi," tutur mantan Ketua KPPU tersebut.

Lebih lanjut, ia berharap pemerintah dapat mempertahankan prestasi ini pada 2019 sehingga target inflasi 3,5 persen plus minus 1 persen dapat tercapai.

 


(SAW)


Menperin Sampaikan Kesiapan Revolusi Industri 4.0 di Swiss
World Economic Forum 2019

Menperin Sampaikan Kesiapan Revolusi Industri 4.0 di Swiss

7 hours Ago

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga menegaskan Indonesia siap menyongsong era revolusi i…

BERITA LAINNYA