Ranking Kemudahan Berusaha Turun

Kepala BKPM Sebut Indonesia Kehilangan Momentum

Nia Deviyana    •    Jumat, 02 Nov 2018 07:16 WIB
pertumbuhan ekonomibkpmekonomi indonesiakemudahan berusaha
Kepala BKPM Sebut Indonesia Kehilangan Momentum
Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong (MI/Galih Pradipta)

Jakarta: Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebut Indonesia telah kehilangan momentum yang menyebabkan peringkat kemudahan berusaha atau Ease of Doing Business (EoDB) turun peringkat dari 72 menjadi 73. Pemerintah Indonesia harus mulai kembali menyelesaikan sejumlah persoalan agar peringkat kemudahan berusaha bisa mencapai target.

Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong tidak menampik dalam 12 bulan terakhir Indonesia sudah kehilangan momentum. Padahal, tambahnya, pada 2014 semua bersemangat ketika tingkat kemudahan berusaha Indonesia mengalami perbaikan sejalan dengan pembenahan yang dilakukan pemerintah dari berbagai macam aspek.

"Kita harus akui dalam 12 bulan terakhir kita kehilangan momentum. Soal EoDB, saya ingat pertama kali pada 2014 semua excited, berapi-api. Mungkin saya harus akui di 2017 mulai kehilangan fokus. Semangat kita enggak sama dibandingkan dengan di 2014, 2015, dan 2016," ujarnya, di Kemenko Perekonomian, Kamis, 1 November 2018.

Ia menilai pemerintah harus melakukan introspeksi guna mengembalikan fokus pada pencapaian target peringkat kemudahan berusaha. Bahkan, perlu ada upaya lebih maksimal untuk memperbaiki struktur dan sistem yang dalam artian tidak hanya mengotak-atik prosedur agar peringkat kemudahan berusaha bisa dinikmati Indonesia.

"Tiga tahun terakhir kita meningkatkan ranking hampir seperti pakai cara-cara hacker, mengutak-atik struktur. Misalnya tiga minggu menjadi tiga hari, administrasi Rp3 juta jadi Rp300 ribu. Tapi kalau kita hanya sebatas ngutak-ngatik prosedur, kita akan mentok. Enggak akan menikmati perbaikan signifikan dari ranking yang sudah ada," paparnya.

Untuk itu, dirinya berharap, perbaikan sistem menjadi prioritas utama. Misalnya perbaikan sistem di pemerintah daerah dan pemerintah pusat apakah masih terjebak pada siklus kegiatan yang tidak produktif atau seperti apa. Perlu ada upaya untuk kembali fokus memperbaiki struktur perekonomian guna masa depan yang lebih baik lagi.

"Kalau mau meloncat ke top 50, sekarang momentum yang baik untuk mencermati pola kita di birokrasi. Apakah pemda dan pusat masih terjebak siklus pola kegiatan yang tidak produktif? Apakah masih berhadapan dengan saling menyandera? Saling memeras? Sekali lagi introspeksi," tegasnya.

Untuk diketahui, posisi Indonesia pada laporan Doing Business 2019 mengalami penurunan satu peringkat dari 72 menjadi 73. Pada 2014, Indonesia berada pada peringkat 114 dan naik menjadi peringkat 109 pada 2016, lalu menjadi peringkat 91 pada 2017, kemudian kembali naik ke peringkat 72 pada 2018.


(ABD)