Struktur Tarif Cukai Rokok Diubah agar Penerimaan Negara Lebih Optimal

Dian Ihsan Siregar    •    Kamis, 12 Oct 2017 14:30 WIB
cukai tembakau
Struktur Tarif Cukai Rokok Diubah agar Penerimaan Negara Lebih Optimal
Ilustrasi. (FOTO: ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA)

Metrotvnews.com, Jakarta: Penggolongan tarif cukai harus dibenahi agar penerimaan negara lebih maksimal. Hal ini dinilai bisa menyebabkan persaingan yang tidak sehat, karena perusahaan yang benar-benar kecil harus bersaing dengan perusahaan besar asing di golongan (Gol) 2.

"Penerimaan negara menjadi tidak optimal karena ada perusahaan besar yang kesannya itu menyiasati. Ada pembatasan kalau tidak mencapai tiga miliar batangmaka akan termasuk golongan yang bukan golongan I," ucap Anggota Komisi XI DPR RI Indah Kurnia dalam keterangan tertulisnya, Kamis 12 Oktober 2017.

Indah memberikan masukan agar sebaiknya pemerintah menggabungkan batas volume produksi untuk rokok mesin menjadi tiga milliar batang agar persaingan yang sehat dapat tercipta di industri.

"Dengan demikian, aturan ini akan melindungi pabrikan yang benar-benar kecil dimana mereka layak menikmati tarif cukai golongan II yang lebih rendah," ungkap Indah.

Seharusnya, tidak ada lagi tarif cukai SKT yang lebih tinggi dari tarif cukai Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan Sigaret Putih Mesin (SPM). "Yang menggunakan tangan manusia (SKT), itu tarifnya seyogyanya harus lebih rendah dari mesin (SKM & SPM)," tutur Indah.

Wakil Ketua Lembaga Demografi Universitas Indonesia Abdillah Hasan mengatakan, cukai tembakau masih mendominasi penerimaan cukai pemerintah. Agustus kemarin, cukai tembakau masih menembus angka Rp65,5 triliun dari total penerimaan cukai Rp68,3 triliun.

Menurut Abdillah Hasan, pemerintah masih bisa mengoptimalkan penerimaan cukai tembakau. Hal itu baru bisa dilakukan apabila struktur tarif cukai di Indonesia sudah tidak rumit lagi. Penggolongan berdasarkan batas produksi tiga miliar batang tidak lah relevan. Sebab, akhirnya hanya memberikan insentif bagi perusahaan rokok untuk membayar cukai lebih rendah.

"Golongan produksi lebih dari tiga miliar dan di bawah tiga miliar, ini tidak relevan lagi. Misalnya saya pengusaha rokok, hal ini memberikan insentif bagi saya untuk memproduksi 2 miliar 999 juta batang sehingga cukainya lebih murah," pungkas Abdillah Hasan.


(AHL)