2017, Surplus Neraca Pembayaran Diperkirakan USD10 Miliar

Eko Nordiansyah    •    Jumat, 17 Nov 2017 18:17 WIB
neraca pembayaran indonesia
2017, Surplus Neraca Pembayaran Diperkirakan USD10 Miliar
Surplus neraca pembayaran diperkirakan Indonesia pada 2017 diperkirakan USD10 Miliar (Foto: AFP).

Jakarta: Bank Indonesia (BI) memperkirakan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) sepanjang 2017 akan surplus sebesar USD10 miliar. Meski begitu, bank sentral memperkirakan jika surplus NPI untuk tahun depan akan mengalami penurunan.

"Surplus tahun ini sekitar 10 miliar dolar AS. Untuk 2018, kami perkirakan tetap surplus namun di bawah 10 miliar dolar AS, sekitar 5-7 miliar dolar AS," kata Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara di Kompleks BI, Jakarta Pusat, Jumat 17 November 2017.

Dirinya menambahkan, penurunan surplus NPI tahun depan tak lepas dari tekanan terhadap ekonomi domestik yang akan semakin kencang. Hal ini dikarenakan rencana kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), the Federal Reserve tahun depan.

Menurut dia, Indonesia harus bisa menjaga berbagai indikator ekonominya untuk tahun depan agar tidak terdampak signifikan karena the Fed. Di antaranya yang perlu dijaga adalah inflasi rendah, balance of payment, dan defisit transaksi berjalan (CAD).

"Ya situasi stabilitas masih bisa dijaga. Jadi kalau Indonesia bisa pertahankan inflasi yang rendah 2018. Kemudian juga defisit transaksi berjalan juga bisa di bawah 2,5 persen PDB 2018, maka kenaikan suku bunga di AS tidak akan berdampak banyak," jelas dia.

Menurut Mirza, berlanjutnya surplus NPI menjadi indikator masih kuatnya ketahanan fundamental ekonomi Indonesia. Untuk itu, Indonesia diharapkan bertahan dari kemungkinan terjadinya arus modal asing keluar dari dalam negeri, menyusul rencana kenaikan suku bunga acuan The Fed dan pengurangan neraca The Fed.        

Meski begitu, defisit neraca transaksi berjalan diperkirakan bisa meningkat menjadi di bawah 2,3 persen PDB pada tahun 2018. Hal ini karena kinerja eskpor yang membaik, namun laju impor juga semakin kencang seiring dengan kebutuhan barang modal untuk menggenjot perekonomian, terutama pembangunan infrastruktur.


(FJR)