Jurus RI Naik Kelas dari Middle Income Trap

Suci Sedya Utami    •    Kamis, 12 Apr 2018 19:10 WIB
ekonomi indonesia
Jurus RI Naik Kelas dari <i>Middle Income Trap</i>
Ilustrasi. Ant/Fanny Octavianus.

Jakarta: Indonesia saat ini masih masuk dan terjebak sebagai negara berpenghasilan menengah atau middle income country. Pemerintah ingin agar perekonomian Indonesia naik kelas dari posisi saat ini.

Asisten Gubernur Bank Indonesia sekaligus Kepala Departemen Kebijakan Makro dan Moneter Dody Budi Waluyo mengatakan saat ini posisi Indonesia ada di level lower middle income dengan pendapatan per kapita sebesar USD1.000-USD3.900.

"Kita ingin menuju tahapan tengah (middle income) dan tahapan akhir (high middle income) dengan pendapatan per kapita USD4.000-USD1.2000," kata Dody dalam bincang media di Batam, Kamis, 12 April 2018.

Dirinya mengatakan banyak negara yang gagal keluar menuju kelas yang lebih tinggi karena tersandung isu struktural yang belum diterapkan. Dody bilang, Indonesia tak ingin menjadi salah satu bagian dari negara tersebut.

Menurut Dody, Indonesia ingin bangkit dengan kenaikan ekonomi  serta tersedia banyak lapangan kerja. Untuk mencapai itu butuh batu loncatan yakni dengan cara mendorong agar industri manufaktur tumbuh lebih besar, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan domestik, namun juga berorientasi ekspor.

Peningkatan ekspor, kata Dody, akan  memperbaiki neraca transaksi berjalan yang saat ini masih mencatatkan defisit. Dody mengatakan dalam empat tahun terakhir, neraca transaksi berjalan Indonesia selalu defisit. Padahal, untuk bisa naik kelas neraca transaksi berjalan harus tercatat positif. Meskipun diakui Dody level saat masih dalam batas yang bisa ditolerir, namun apabila diperbaiki tentu akan lebih baik.

"Untuk suatu negara keluar dari satu level income per kapita yang lebih tinggi, sehingga relatif neraca transaksi berjalan harus surplus, semakin surplus semakin bisa tumbuh sustain dan dapat penerimaan yang meningkat. ?ni yang akan kita tunggu," tandas Dody.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir menambahkan sejak 2015 pertumbuhan sektor Industri makin menurut. Tahun lalu, kontribusi sektor industri ke produk domestik bruto (PDB) sekitar 20,2 persen. Padahal, kata dia, apabila suatu negara ingin keluar dari middle income trap maka pertumbuhan sektor industrinya harus lebih besar dari pertumbuhan ekonomi.

"Artinya pertumbuhan sektor lainnya lebih cepat dari industri, artinya bahwa memproses SDA itu lebih lambat dibandingkan meng-extract SDA, akibatnya nilai tambah ekonomi menjadi lebih rendah. Padahal untuk dorong produktivitas suatu negara, dia harus dorong sektor industrinya," jelas ?skandar.

 


(SAW)