Indonesia Teruji Menghadapi Krisis

   •    Jumat, 05 Oct 2018 12:21 WIB
ekonomi indonesiakrisis ekonomi
Indonesia Teruji Menghadapi Krisis
Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara. (FOTO: Medcom.id/Arif)

Jakarta: Indonesia mengambil banyak pelajaran berharga dari krisis keuangan yang pernah melanda negeri ini pada 1998.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan banyak hal yang telah dilakukan Indonesia dalam 20 tahun terakhir.

Pemerintah, kata Mirza, sudah melakukan reformasi kebijakan di sektor perbankan hingga moneter.

"Misalnya terkait fit and proper buat manajemen bank, yang sekarang dialihkan dari BI ke OJK. Tentang fiskal, sekarang sudah ada pembatasan bagaimana fiskal defisit, bagaimana utang pemerintah terhadap GDP," kata Mirza saat ditemui dalam peluncuran buku Realizing Indonesia's Economic Potential di Gedung BI, Jakarta, Kamis, 4 Oktober 2018.

Kebijakan moneter, sambungnya, saat ini sudah independen jika dibandingkan dengan dahulu yang pengelolaannya masih di bawah koordinasi pemerintah.

"Makanya, kebijakan moneter sekarang itu independen demi kebaikan dan stabilitas," ujar Mirza.


Kendati sudah ada reformasi kebijakan dalam kurun waktu 20 tahun ini, Mirza mengakui bahwa masih ada hal-hal yang harus diperbaiki. "Current account deficit (CAD), itu permasalahan yang belum kita selesaikan," jelasnya.

Ia mengatakan transaksi berjalan pernah tercatat surplus dalam periode 2000-2010. "Tapi sejak 2011 kita kembali mengalami problem CAD, seperti yang kita alami sebelum 1998. Itu yang membuat suplai valas di Indonesia selalu kurang," katanya.

Jika suplai valas defisit, imbuhnya, itu akan ditutup dari penanaman modal asing (PMA) dan portofolio yang masuk. "Maka penting sekali kita harus PMA friendly," katanya.

Selain itu, penting juga untuk menunjukkan kepada investor bahwa pemerintah mengelola ekonominya dengan baik.

IMF Mission Chief for Indonesia and Book Editor, Luis Breuer, mengatakan ada tiga pesan yang ingin disampaikan melalui buku yang ditulis itu.

Pertama, Indonesia telah membuat kemajuan yang signifikan baik di bidang politik, ekonomi, maupun sosial, juga memperkuat ketahanan selama 20 tahun ini.

Kedua, adanya perubahan lanskap ekonomi dengan menyoroti beberapa tantangan jangka pendek dan menengah.

Adapun yang terakhir, Indonesia perlu memodernisasi kerangka kebijakan dan menerapkan reformasi yang kritis untuk mencapai kesejahteraan dan lebih meningkatkan ketahanan ekonomi.




Tekanan Eksternal

Berkaca dari pembenahan yang telah dilakukan selama 20 tahun terakhir, krisis yang terjadi saat ini seharusnya tidak menjadikan ekonomi Indonesia tumbang. Bank Dunia memprediksi tahun ini pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,2 persen.

Pelemahan nilai tukar rupiah yang mencapai Rp15.150 per USD bukan melulu berasal dari permasalahan domestik. Pelemahan rupiah lebih banyak disebabkan tekanan eksternal akibat sentimen perang dagang dan harga minyak yang naik.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyebutkan perlunya ada fleksibilitas guna merespons kondisi yang ada. Dengan demikian, tidak perlu ada kekhawatiran yang berlebihan.

Pelaku usaha dalam negeri juga masih mencoba bertahan dengan kondisi yang ada. Pelaku usaha makanan dan minuman bertahan tidak menaikkan harga jual.

Hal itu membantu mengurangi tekanan inflasi yang berasal dari nilai tukar. (Media Indonesia)


(AHL)


Kepailitan Sariwangi Tidak Memengaruhi Industri Makanan

Kepailitan Sariwangi Tidak Memengaruhi Industri Makanan

2 days Ago

Kepailitan Sariwangi AEA dan anak usahanya yaitu PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung (…

BERITA LAINNYA