Pembangunan Berkelanjutan Perlu Seimbangkan Banyak Aspek

Damar Iradat    •    Minggu, 19 Mar 2017 20:32 WIB
pembangunan
Pembangunan Berkelanjutan Perlu Seimbangkan Banyak Aspek
Proyek pembangunan jalan layang lingkar simpang susun Semanggi ditargetkan rampung pada Agustus 2017. Pembangunan saat ini sudah mencapai 34 persen. MI/RAMDANI

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah diminta mempertimbangkan pembangunan nasional yang menyeimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Bertambahnya jumlah penduduk juga menjadi tantangan tersendiri bagi pembangunan nasional saat ini.

Ketua Umum Perkumpulan Ahli Lingkungan Indonesia (Indonesian Environmental Scientists Association/IESA) Tri Edhi Budhi Susilo mengatakan, bertambahnya jumlah penduduk mendorong meningkatnya kebutuhan dan keinginan terhadap barang dan jasa. 

Namun, di sisi lain, sumber daya alam semakin terbatas dan terjadi penyusutan kapital alam, sementara tingkat pengetahuan dan keterampilan di Indonesia masih rendah.

"Selain itu, pada kenyataannya, teknologi tidak mampu mengganti sebagian besar fungsi sumber daya alam dan jasa lingkungan," kata Edhi, seperti dikutip dari Antara, Minggu 19 Maret 2017.

Berdasarkan proyeksi Bappenas, jumlah penduduk Indonesia bakal mencapai 305,6 juta jiwa pada 2035. Sementara, berdasarkan perhitungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tahun 2009, cadangan minyak mentah Indonesia akan habis dalam kurun 22,9 tahun, gas habis dalam 58,9 tahun, dan batubara habis dalam 82 tahun.

Sedangkan, menurut kajian UNDP tahun 2014, indeks pembangunan manusia di Indonesia saat ini baru mencapai 0,684 dan berada di peringkat 110, di atas Filipina yang berada di peringkat 115, dan jauh di bawah Tiongkok yang berada di peringkat 90. Dalam situasi ini, bencana alam di Indonesia justru menunjukan peningkatan.

Dari catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bencana di Indonesia naik dari 143 kejadian pada 2002, menjadi 1.967 pada 2014. Sekitar 98 persen total bencana per tahun adalah bencana hidrometeorologis seperti banjir, longsor, kekeringan, dan kebakaran hutan lahan. BNPB juga mengatakan, tren bencana akan terus meningkat karena perilaku manusia.

Ketua Bidang Kerja Sama dan Komunikasi IESA Mahawan Karuniasa menjelaskan, meningkatkan bencana hidrometeorologis tak lepas dari perubahan iklim yang cepat.

"Ini menjadi tantangan tersendiri dalam pembangunan nasional," tutur dia.

Sementara itu, Staf Khusus Kepala Kantor Staf Presiden Noer Fauzi Rachman berharap dukungan IESA terkait kebijakan pemerintah yang mendorong pengembangan ekonomi kerakyatan. Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan, pemerintah bakal memperluas akses terhadap lahan. Ada program perhutanan sosial seluas 12,7 juta hektare dan reforma agraria seluas sembilan juta hektar.

"Perlu dukungan pemikiran dari para ahli lingkungan agar usaha rakyat yang dijalankan menghasilkan ekonomi bernilai tinggi dan bernilai tinggi juga secara ekologi," tandas dia.


(SCI)