Bos Fed Puji Kebijakan BI Selamatkan Rupiah

Suci Sedya Utami    •    Sabtu, 13 Oct 2018 13:52 WIB
pertumbuhan ekonomibank indonesiathe fedekonomi indonesiaIMF-World Bank
Bos Fed Puji Kebijakan BI Selamatkan Rupiah
Gubernur BI Perry Warjiyo saat bertemu dengan Ketua Federal Reserve Jerome Powell, di Nusa Dua, Bali (Foto: Bank Indonesia)

Nusa Dua: Ketua Federal Reserve Jerome Powell memuji kebijakan Bank Indonesia (BI) mengatasi tekanan global yang berdampak pada nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Tidak dipungkiri, langkah yang diambil BI mampu meredam gejolak sehingga rupiah tidak melemah lebih dalam.

"Pujian tersebut disampaikan Powell ketika bertemu Gubernur BI Perry Warjiyo di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF-WB 2018," ungkap Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo, yang juga ikut dalam pertemuan yang berlangsung Jumat, 12 Oktober 2018.

Dalam pertemuan tersebut, Perry menekankan bagaimana pemerintah dan BI melihat secara bersama masalah yang ada di Indonesia, termasuk bagaimana mengatasi masalah nilai tukar rupiah dan defisit transaksi berjalan (CAD).

"Itu diapresiasi Powell, mereka respek pada kebijakan kita yang a head the curve, pre-emtive, dan sebagainya," kata Dody, di Nusa Dua, Bali, Sabtu, 13 Oktober 2018.



Seperti diketahui dalam merespons perkembangan ekonomi global terutama kenaikan suku bunga acuan AS, BI menerapkan kebijakan pre-emtive, front loading, dan ahead the curve. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas rupiah dengan mempertimbangkan arah perubahan kebijakan dari bank sentral negara lain.


Gubernur BI Perry Warjiyo saat bertemu dengan Ketua Federal Reserve Jerome Powell, di Nusa Dua, Bali (Foto: Bank Indonesia)

AS merupakan negara yang selama tiga tahun terakhir menerapkan normalisasi kebijakan moneter setelah melakukan pelonggaran dengan menggelontorkan dana segar ke pasar likuiditas global. Normalisasi kebijakan moneter itu diterapkan dengan kenaikan suku bunga kebijakan moneter secara bertahap dan juga normalisasi neraca bank sentral AS.

Akibat normalisasi kebijakan yang dilakukan the Fed, negara-negara berkembang mengalami pelarian arus modal asing dan menderita tekanan nilai tukar. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang terdampak, namun kondisi Indonesia masih jauh lebih baik dibandingkan dengan negara-negara lainnya, seperti Argentina, dan Turki.

 


(ABD)