KSSK Cermati Tekanan pada Kurs dan SBN

   •    Rabu, 01 Aug 2018 06:31 WIB
ekonomi indonesiakssk
KSSK Cermati Tekanan pada Kurs dan SBN
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (MI/MOHAMAD IRFAN)

Jakarta: Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mencermati adanya tekanan pada nilai tukar dan Surat Berharga Negara (SBN) pada triwulan II-2018. Adapun tekanan itu yang berasal dari ekspektasi lanjutan kenaikan suku bunga acuan the Fed dan sentimen perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan mitra dagang utama.

"Risiko ini bersumber dari spillover kenaikan lanjutan fed fund rate dan perang dagang AS dengan mitra dagang utama," kata Menteri Keuangan selaku Ketua KSSK Sri Mulyani Indrawati, dalam jumpa pers perkembangan sistem keuangan triwulan II-2018, di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Rabu, 1 Agustus 2018.

Dalam mengantisipasi ketidakpastian ekonomi global tersebut, Sri Mulyani menyampaikan, KSSK telah melakukan penilaian dan mitigasi berbagai potensi risiko yang dapat menganggu stabilitas sistem keuangan.

"KSSK berkomitmen memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah meningkatnya tekanan global," ujarnya.

Dalam periode ini, pergerakan nilai tukar rupiah ikut tercatat rata-rata sebesar Rp14.420 per dolar Amerika Serikat (USD) atau mengalami perlemahan sebesar enam persen year to date, meski lebih rendah dibandingkan dengan mata uang negara berkembang lainnya seperti Filipina, India, Afrika Selatan, Brasil dan Turki.

Meski demikian, berdasarkan pemantauan lembaga anggota KSSK terhadap perkembangan perekonomian, moneter, fiskal, pasar keuangan, lembaga jasa keuangan dan penjaminan simpanan selama triwulan II-2018, KSSK menyimpulkan bahwa stabilitas sistem keuangan tetap terjaga meski terdapat tekanan global.

Kondisi ini terlihat dari tingkat inflasi terjaga, likuiditas sistem keuangan yang mencukupi, cadangan devisa yang masih memadai, tingkat defisit APBN yang terkendali, surplus keseimbangan primer, kinerja perbankan yang membaik, peningkatan pertumbuhan kredit dengan tingkat risiko terkendali serta permodalan perbankan yang kuat.


(ABD)