Alasan Kondisi Rupiah Sekarang Berbeda dengan Krisis 1998

Angga Bratadharma    •    Jumat, 07 Sep 2018 10:33 WIB
pertumbuhan ekonomikurs rupiahekonomi indonesia
Alasan Kondisi Rupiah Sekarang Berbeda dengan Krisis 1998
Ilustrasi (MI/RAMDANI)

Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) terus melemah sampai hampir seperti saat krisis 1998. Namun, perlu diketahui bahwa kondisi sekarang ini sangat jauh berbeda dibandingkan dengan situasi saat krisis. Pertumbuhan ekonomi tetap di kisaran lima persen dengan tingkat inflasi terkendali sesuai target pemerintah dan Bank Indonesia (BI).

Mengutip cuitan DJPR Kementerian Keuangan, Jumat, 7 September 2018, terdapat beberapa alasan kondisi pelemahan nilai tukar rupiah sekarang jauh berbeda dengan kondisi krisis di 1998. Pertama, pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi sekarang ini relatif berlangsung secara perlahan dan tidak drastis.

Baca: Analis Perkirakan Rupiah Perkasa di Rp14.850/USD

Sejak awal tahun hingga level terendahnya, nilai tukar rupiah melemah 9,3 persen. Sedangkan pada saat krisis dulu dihitung dari sejak awal tahun, nilai tukar rupiah terjun 124,39 persen atau setara Rp15.250 per USD. Volatilitas pergerakan rupiah terhadap USD selama krisis moneter 1997/1998 sangat tinggi dan bergerak dalam rentang yang lebar.

Baca: Rupiah Pagi di Akhir Pekan Menghijau di Rp14.868/USD

Pada 1997, nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp2.362–Rp5.850 per USD. Sedangkan pada 1998, rupiah bergerak pada rentang Rp5.650–Rp15.250 per USD. Kondisi ini berbeda dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi sekarang ini. Nilai tukar rupiah yang terjun bebas, dengan fluktuasi yang tinggi, saat itu membuat hitungan bisnis kacau dan masyarakat panik.



Berbeda dengan kondisi sekarang ini di mana pelaku usaha seharusnya masih bisa menyerap efek dari pelemahan rupiah yang tidak drastis dengan volatilitas relatif tidak terlalu tinggi. Jika dibandingkan dengan gejolak pada 1997/1998, pergerakan nilai tukar rupiah saat ini bisa dibilang relatif baik yakni di kisaran Rp13.542–Rp14.815 per USD.

Baca: Devisa Ekspor yang Dikonversi ke Rupiah Capai USD4,4 Miliar

Kedua, kondisi cadangan devisa jauh lebih besar sekarang ini. Kendati turun dari posisi akhir 2017, posisi cadangan devisa saat ini masih jauh lebih besar dibandingkan dengan kondisi saat krisis 1998. Saat 1998, cadangan devisa Indonesia hanya USD23,61 miliar. Sedangkan, per akhir Juli 2018, cadangan devisa mencapai USD118,3 miliar.


Sumber: Kementerian Keuangan


"Itu berarti, lima kali lipat lebih besar ketimbang cadangan devisa 20 tahun silam," ungkap DJPR Kemenkeu dalam cuitannya.

Dengan cadangan devisa yang jauh lebih besar, bank sentral memiliki lebih banyak modal untuk meredam gejolak nilai tukar. Melihat pelemahan sekarang ini, misalnya, Bank Indonesia turun mengintervensi pasar sehingga pelemahan rupiah tidak terlalu dalam. Singkatnya, masyarakat, termasuk pelaku pasar dan dunia usaha, tidak perlu khawatir rupiah akan terpuruk.


Sumber: Kementerian Keuangan

"Sebab, Bank Indonesia ada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah," ujar DJPR Kemenkeu dalam cuitannya.

Baca: Perbedaan Makna Kenaikan Rupiah 1998 dan 2018

Ketiga, kepercayaan investor masih kuat. Minat investasi asing terhadap surat utang suatu negara merupakan salah satu indikator yang secara tidak langsung memperlihatkan baik buruk kondisi makroekonomi suatu negara. Sedangkan investor asing masih berminat dengan surat utang di Indonesia.


Sumber: Kementerian Keuangan

Logikanya, tidak ada investor yang mau menempatkan uangnya di negara yang tengah sakit. Ketika bank sentral AS mengerek suku bunga acuan, memang terlihat investor asing menarik dananya dari pasar surat utang Indonesia. Namun, sejak awal bulan ini, asing kembali masuk ke pasar surat utang


Sumber: Kementerian Keuangan

Bahkan, per akhir pekan lalu, asing mencatatkan beli bersih Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp6,92 triliun. Artinya kepercayaan investor asing terhadap Indonesia masih kuat. Ini memberi harapan bahwa nilai tukar rupiah ke depan akan cenderung stabil atau tidak akan jatuh terlalu dalam.

 


(ABD)