Yuk, Bantu Redam Pelemahan Rupiah

Ade Hapsari Lestarini    •    Kamis, 06 Sep 2018 20:11 WIB
rupiah melemah
Yuk, Bantu Redam Pelemahan Rupiah
Ilustrasi. (FOTO: AFP)

Jakarta: Rupiah melemah. Rupiah terpuruk. Rupiah terdepresiasi. Kondisi nilai tukar mata uang Garuda ini telah menjadi headline di berbagai media beberapa hari terakhir.

Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu pemicu rupiah hampir menembus Rp15 ribu per USD. Tak hanya itu, perang dagang antara AS dan Tiongkok, hingga kebijakan kenaikan suku bunga The Fed juga turut andil menjadi biang kerok melemahnya rupiah.

Tak menunggu lama, Pemerintah pun gerak cepat mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk menangkis pelemahan rupiah. Mulai dari mengurangi impor minyak dengan mewajibkan biodiesel sebesar 20 persen (B20), hingga menekan impor barang konsumsi dengan menaikkan pajak penghasilan (PPh) untuk 1.147 barang impor.




Wakil Presiden Jusuf Kalla pun turut mengimbau kepada masyarakat untuk berhemat dan mengurangi kegiatan membeli barang impor yang tidak perlu. Bahkan, Kalla juga meminta masyarakat untuk tak perlu membeli mobil mahal serupa Lamborghini dan Ferarri.

Selain itu dia pun meminta masyarakat tak usah membeli parfum dan tas mahal. Ia meminta masyarakat juga berhemat saat negara dalam kondisi sulit seperti sekarang. "Tidak usah mobil-mobil besar, yang mewah-mewah tidak usah," tegas Kalla, pada Selasa, 4 September lalu.

Hal senada juga disampaikan Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsyah. Dia mengimbau masyarakat untuk mengurangi pembelian barang impor. "Misalnya punya handphone satu saja cukup, tidak usah mahal-mahal," katanya saat bincang media, di Jakarta, Rabu, 5 September 2018.

Selain berhemat, masyarakat pun diimbau menjual mata uang Paman Sam-nya untuk membantu pemerintah menekan pelemahan rupiah. Aksi ini dianggap Wakil Sekretaris Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Raja Juli Antoni, sebagai tanggung jawab bersama terhadap perekonomian nasional.

"Tentu saja gagasan dan tindakan yang baik menjual dolar yang kita miliki. Baik sebagai tanggung jawab kolektif kita pada bangsa, akan sangat membantu aspek-aspek psikologis pasar," kata Raja Juli saat konfirmasi, Kamis, 6 September 2018.

Tak hanya berhemat dan menjual dolarnya, masyarakat diharap menyadari upaya untuk mengurangi pelemahan rupiah. Menilik data Media Research Center (MRC), upaya tersebut seperti membeli produk lokal dalam negeri, serta menunda membeli handphone dan barang elektronik. Kemudian menunda jalan-jalan ke luar negeri, hingga menggunakan transportasi publik.




Pelemahan rupiah ini pun juga menjadi sorotan Presiden Joko Widodo. Dia menegaskan bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar AS tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga terhadap berbagai mata uang lain di dunia. Menurut pria yang kerap disapa Jokowi ini, Indonesia harus meningkatkan investasi dan ekspor demi menekan pelemahan rupiah.

Pengamat ekonomi Universitas Indonesia Telisa Aulia Falianty dalam tulisannya mengenai pelemahan rupiah, Rabu, 4 Juli 2018 lalu memaparkan jika pemberitaan negatif dan terus-menerus terkait permasalahan utang luar negeri bukan tidak mungkin juga berkontribusi terhadap sentimen negatif di pasar. Sentimen negatif tersebut dapat berimbas pada aksi jual saham maupun surat utang RI oleh investor. Hal ini terlihat dari IHSG yang turun atau di zona merah.

"Melemah ataupun menguatnya nilai tukar ialah suatu fenomena ekonomi yang sangat alamiah di dalam sistem nilai tukar mengambang. Pergerakan nilai tukar mencerminkan dinamika perubahan permintaan dan penawaran terhadap mata uang asing (valuta asing). Lalu, apa yang masih perlu dikhawatirkan pada episode pelemahan rupiah kali ini? Permasalahannya terkait apakah rupiah dapat kembali pada keseimbangan awal," ujar dia dalam tulisannya.


Dia mencatat pelemahan rupiah bukanlah yang terburuk karena ada negara-negara lain yang mata uangnya melemah lebih parah dari rupiah. Namun, yang perlu dikhawatirkan ialah persistennya pelemahan rupiah kali ini cukup besar jika dibandingkan dengan sebelumnya. Belum ada tanda kapan rupiah akan kembali menguat, setidaknya ke kisaran Rp12.000-Rp13.000. Angka ini masih jauh dari rata-rata nilai tukar dalam 18 tahun terakhir di kisaran Rp10.000 per USD.


(AHL)