Kelas Menengah dan Momentum Perekonomian

   •    Rabu, 11 Oct 2017 09:57 WIB
kelas menengah
Kelas Menengah dan Momentum Perekonomian
Achmad Zaky, salah satu anak muda berprestasi, pendiri marketplace Bukalapak. (FOTO: MI/Arya Manggala)

Metrotvnews.com, Jakarta: Nama Achmad Zaky, William Tanuwijaya, atau Andrew Darwis barangkali terdengar asing bagi sebagian pembaca. Namun, bagi generasi milenial yang melek internet, nama mereka amatlah familier. Mereka dikenal sebagai pengusaha yang sukses memanfaatkan teknologi.

Zaky pendiri marketplace terkenal Bukalapak, sedangkan William ialah pendiri sekaligus CEO Tokopedia. Adapun Andrew yang akrab disapa mimin ialah pendiri situs komunitas Kaskus. Mereka miliuner-miliuner muda, bagian dari kelas menengah yang menjadi salah satu tumpuan masa depan perekonomian negeri ini.

Dalam banyak studi ekonomi, peran kelas menengah memang penting. Mereka ialah kekuatan pendorong (driving force) bagi proses pembangunan ekonomi, bahkan juga politik. Banyak definisi kelas menengah. Namun, kita gunakan saja definisi kelas menengah versi Bank Pembangunan Asia, yakni mereka yang pengeluaran konsumsinya berkisar USD2-USD20 per kapita per hari.

Jika mengacu pada versi ini, Zaky, William, dan Andrew cuma segelintir dari bagian kelas menengah yang ada di negeri ini. Mereka tak cuma sukses mendongkrak finansial mereka, tapi juga ikut membuka lapangan kerja yang akhirnya berdampak pada pemerataan pendapatan dan meningkatkan pertumbuhan.

Tidak mengherankan jika dalam orasi ilmiahnya dalam rangka dies natalis Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia di Depok, 26 September lalu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Kepala Bappenas) Bambang Brodjonegoro menaruh perhatian khusus pada peran kelas menengah ini. Dia memprediksi pada 2045 jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia mencapai 200 juta orang, naik lima kali lipat dari saat ini 40 juta orang.

Menurut dia, membeludaknya masyarakat kelas menengah itu disebabkan perbaikan pendapatan per kapita yang diprediksi naik dari USD3.378 menjadi USD19.794. Dia pun memprediksi peringkat PDB Indonesia di dunia akan naik dari urutan ke-16 menjadi ke-8 pada 2045.

Dengan kondisi itu, Bambang mengatakan, di era itu atau tepat pada seabad kemerdekaan Republik ini, nasib Indonesia akan berada di tangan masyarakat kelas menengah. Kondisi ekonomi dan perpolitikan bakal dipegang mereka.

Harapan Bambang barangkali juga menjadi harapan kita bersama. Apalagi, kita punya benefit dari penduduk muda (bonus demografi) yang akan mencapai puncaknya pada sekitar 2030. Momentum ini harus dimanfaatkan dengan menyiapkan segala sesuatunya dari sekarang. Banyak pekerjaan rumah yang mesti dibenahi. Mulai sistem pendidikan, kemudahan akses pembiayaan, ataupun kesempatan/kemudahan untuk berusaha.

Hambatan paling utama di negeri ini mungkin pada birokrasi yang korup. Sejumlah operasi tangkap tangan Komite Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dengan suap yang melibatkan pengusaha-pejabat membuktikan betapa hubungan patron-klien sudah begitu mengakar di negeri ini. Relasi yang tidak setara antara penguasa dan pengusaha inilah yang melahirkan celah korupsi. Jika mau, mungkin kita perlu meniru cara Tiongkok yang tak pandang bulu menyikat para parasit penghambat kemajuan bangsa ini. (Media Indonesia)

 
(AHL)