Defisit Anggaran Jangan Tekan Sektor Swasta

   •    Minggu, 08 Oct 2017 13:01 WIB
defisit anggaran
Defisit Anggaran Jangan Tekan Sektor Swasta
Illustrasi. MI/Susanto.

Metrotvnews.com, Jakarta: Defisit anggaran yang dikelola oleh pemerintah jangan sampai menekan sektor swasta. Hal tersebut perlu dikelola dengan cermat agar rasio utang terhadap Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB) tidak bertambah ke depannya.

Anggota Komisi XI DPR Ecky Awal Mucharam menuturkan bahwa lebarnya defisit anggaran bisa menyebabkan crowding out dari  investasi swasta. Defisit bisa menekan investasi swasta karena resiko inflasi semakin meningkat karena besarnya utang pemerintah.

"Ini yang tentu semakin menekan sektor swasta di tahun 2018," kata Anggota Komisi XI DPR Ecky Awal Mucharam dikutip dari Antara, Minggu 8 Antara 2017.

Menurut dia, salah satu hal yang perlu disorot adalah tidak optimalnya kinerja penggunaan utang yang dikelola pemerintah. Dia  berpendapat, indikasi dari hal tersebut dapat dilihat dair besarnya sisa lebih pembiayaan anggaran pada 2015 dan 2016.




Untuk itu, ia mengemukakan bahwa pemerintah perlu menetapkan target penerimaan pajak yang kredibel karena realisasi yang meleset akan memperlebar defisit anggaran.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pelaksanaan belanja pemerintah yang lebih efisien bisa mengurangi beban anggaran dan menahan pelebaran defisit fiskal.

"Kalau kita bisa mengurangi belanja yang tidak perlu maka defisit sangat bisa dikurangi," kata Sri Mulyani dalam acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah di Jakarta, Kamis 14 September lalu.

Sri Mulyani mengatakan untuk mendorong efisiensi belanja tersebut, maka desain program perencanaan anggaran harus disusun secara matang, sejak proses penyusunan hingga penyaluran dana.

Namun, bila desain program itu telah tersusun dengan baik dan kinerja penyerapan anggaran ternyata masih belum memadai, maka berarti manajemen organisasi tersebut belum efisien.

Menkeu dalam sejumlah kesempatan lainnya mengatakan defisit anggaran pada periode akhir Agustus 2017 mencapai 1,65 persen terhadap produk domestik bruto atau sekitar Rp224,3 triliun.

Sri Mulyani menjelaskan defisit anggaran tersebut berasal dari penerimaan perpajakan yang hingga 31 Agustus 2017 telah mencapai Rp780,03 triliun atau 53 persen dari target dalam APBN-P.


 


(SAW)