Ekonomi Kepri Diklaim Bergantung ke Singapura

   •    Kamis, 10 Aug 2017 13:21 WIB
kepriekonomi daerah
Ekonomi Kepri Diklaim Bergantung ke Singapura
Ilustrasi kota Singapura. (FOTO: AFP)

Metrotvnews.com, Tanjungpinang: Perekonomian di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) masih bergantung pada Singapura, karena sampai sekarang dinilai belum berhasil menjadi wilayah produsen.

"Kerja sama di bidang perekonomian antara Kepri, terutama Batam dengan Singapura sudah terjalin sejak dahulu sampai sekarang. Itu dapat dilihat dari perkembangan ekspor dan impor yang dicatat Badan Pusat Statistik setiap bulan," tutur Pengamat Hubungan Internasional Sayed Fauzan, di Tanjungpinang, Kepri, seperti dikutip dari Antara, Kamis 10 Agustus 2017.

Sayed menegaskan pertumbuhan ekonomi Kepri pada triwulan II-2017 yang hanya 1,52 persen sudah dikaji dan dipublikasikan Bank Indonesia (BI) secara jelas. Seharusnya, pemerintah mengkaji lebih mendalam penyebabnya, tidak perlu galau atau mencari kesalahan pihak lainnya.

Dari data BI itu, ia menyangkal keterpurukan perekonomian di Kepri, khususnya Batam, disebabkan peran Singapura, sebagaimana yang diduga anggota Fraksi Hati Nurani Rakyat Plus DPRD Kepri Sukhri Fahrial. Bahkan dari data BPS, untuk sektor perekonomian, Singapura juga membutuhkan Kepri.

Untuk sektor industri dan pariwisata, hubungan Kepri dengan Singapura sangat erat. Nilai ekspor dan impor antara Kepri, khususnya Batam dengan Singapura mencapai ratusan juta dolar AS dalam setiap tahun. Jumlah wisatawan berkebangsaan Singapura yang berkunjung ke Kepri juga paling banyak dalam setiap bulan dibanding wisatawan asal negara lainnya.

"Kami belum menemukan data, Singapura mengancam perekonomian Batam, tetapi justru sebaliknya, keduanya saling membutuhkan," ujarnya.

Ia berpendapat pemerintah Kepri dan pemerintah kabupaten dan kota seharusnya melakukan tindakan yang nyata. Kajian perekonomian perlu dilakukan untuk membuahkan strategi yang optimal dalam memperbaiki kondisi perekonomian di Kepri.

"Apakah keterpurukan perekonomian Kepri ini disebabkan realisasi anggaran daerah dan pusat yang lambat? Kenapa daya beli masyarakat menurun? Apakah kebijakan pemerintah daerah dan pusat membuat nyaman investor? Apakah infrastruktur perekonomian sudah memadai? Apa solusi dari permasalahan itu, harus dikaji untuk mendapatkan solusi yang tepat," tegas dia.

BPS Kepri mencatat nilai ekspor migas dan nonmigas wilayah itu pada Juni 2017 mencapai USD804,42 juta atau turun sebesar 29,11 persen dibanding ekspor Mei 2017. Ekspor migas Juni 2017 mencapai USD268,87 juta atau turun 9,36 persen dibanding Mei 2017, sedangkan ekspor nonmigas Juni 2017 mencapai USD535,55 juta atau turun 36,10 persen dibanding Mei 2017.

Ekspor migas dan nonmigas dari Kepri ke singapura pada Juni 2017 sebesar USD436,16 juta, sementara satu bulan sebelumnya mencapai USD539,69 juta. Sedangkan impor migas dan nonmigas pada Juni 2017 sebesar USD221,18 juta, sementara satu bulan sebelumnya mencapai USD234,30 juta.
(AHL)