Ramai Tagar Uninstall Bukalapak

Berapa Anggaran R&D Indonesia?

Ade Hapsari Lestarini    •    Jumat, 15 Feb 2019 21:01 WIB
bukalapakRiset dan Penelitian
Berapa Anggaran R&D Indonesia?
Ilustrasi. (FOTO: Media Indonesia)

Jakarta: Bos Bukalapak Achmad Zaky sempat mengkritisi kecilnya anggaran penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R&D) Indonesia dalam akun media sosial Twitter miliknya.

Cuitan Achmad Zaky pada Rabu, 13 Februari 2019 ramai di media sosial karena ia juga menyinggung program Industri 4.0 yang saat ini digalakkan pemerintahan Joko Widodo.

Namun, Achmad Zaky mengatakan telah terjadi kesalahpahaman terhadap persepsi masyarakat mengenai cuitannya tentang R&D.

Ia menjelaskan, tujuan cuitannya tersebut adalah menyampaikan fakta bahwa 20 sampai 50 tahun ke depan, Indonesia memerlukan investasi riset dan sumber daya manusia (SDM) kelas tinggi agar tidak kalah dengan negara lain.

Lalu, berapa sebenarnya anggaran R&D Indonesia?

Mengutip data digital.rdmag.com yang mengambil data dari R&D Magazine, IMF, Bank Dunia, CIA World Fact Book, dan OECD, seperti dikutip Medcom.id, mencatat bahwa dana gross expenditure on R&D (GERD atau belanja litbang terhadap PDB) Indonesia pada 2017 (actual) sebesar USD9,88 miliar atau 0,3 persen dari produk domestik bruto (PDB) sebesar USD3.243 miliar.

Sementara pada 2018 (estimasi), dana gross expenditure terhadap R&D Indonesia sebesar USD10,58 miliar atau setara 0,31 persen dari PDB sebesar USD3.414 miliar. Sedangkan proyeksi di 2019, dana gross expenditure terhadap R&D Indonesia sebesar USD11,17 miliar atau setara 0,31 persen dari PDB USD3.602 miliar.

Baca juga: Ramai #uninstallbukalapak, Apa Masalahnya?

Dirjen Riset dan Pengembangan (Risbang) Kemenristekdikti Muhammad Dimyati sebelumnya mengatakan pertumbuhan riset Indonesia dalam kurun waktu empat tahun terakhir berkembang pesat. Berdasarkan data Kemenristekdikti 2017, anggaran riset Indonesia baru 0,25 persen dari total PDB, jika dirupiahkan besarnya Rp30,8 triliun.

Dimyati mengakui angka tersebut berada di bawah Thailand (0,6 persen), Malaysia (1,6 persen), dan Singapura (2,2 persen). Namun, kata Dimyati, jangan lekas-lekas mengecilkan capaian riset yang mampu dihasilkan Indonesia.

Dalam kurun waktu 3-4 tahun belakangan ini capaian riset mengalami perkembangan yang luar biasa. "Dalam empat tahun perkembangan riset kita dahsyat, meski alokasi anggaran untuk riset belum besar," ujar Dimyati kepada Medcom.id, Jumat, 15 Februari 2019.

Baca juga: Pertumbuhan Riset Indonesia Dahsyat dalam Empat Tahun Terakhir

Menurutnya ketergantungan dunia riset pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mulai berkurang. Dengan kata lain, riset dapat dikembangkan dari sumber dana lain seperti PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak).

"Contohnya SPP mahasiswa, itu juga bisa digunakan sebagian untuk penelitian," ujar Dimyati.

Dia mengatakan anggaran negara yang dialokasikan untuk riset porsinya sudah mencukupi, mencapai 84 persen dari struktur anggaran riset dunia.

"Kita ini anomali, anggaran risetnya didominasi pembiayaan pemerintah. Kalau di negara maju anggaran risetnya didominasi partisipasi swasta. Kita menuju ke sana, jika UU Sisnas Iptek sudah disahkan bisa memberi payung hukum bagi swasta untuk berpartisipasi," tutup Dimyati.


(AHL)