Rizal Ramli Mengaku Salah Kritik Sri Mulyani

   •    Selasa, 29 Jan 2019 19:36 WIB
sri mulyanirizal ramli
Rizal Ramli Mengaku Salah Kritik Sri Mulyani
Rizal Ramli. Dok;MI.

Jakarta: Ekonom Senior Rizal Ramli mengaku ngawur saat mengritik besarnya bunga dari surat utang pemerintah Indonesia yang dikeluarkan oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani pada masa pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla.

Awalnya mantan Menteri Koordinator Perekonomian itu menuduh bahwa Indonesia berutang dengan bunga tinggi pada Maret 2019. Dia bahkan mengklaim bunga utang ini merupakan yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Begini cuitan Rizal di media sosial Twitter-nya, seperti dikutip Medcom.id, Selasa, 29 Januari 2019:

"Indonesia akan ngutang lagi USD2 miliar dengan yield 11,625 persen, issued 4 Maret 2019. Yield tertinggi di kawasan, padahal Vietnam keluarkan surat utang hanya dengan yield lima persen. Penguatan rupiah didukung oleh peningkatan pinjaman dengan bunga super tinggi!! Kreditur pesta pora, rakyat semakin terbenani. Menkeu semakin ngawur. International bonds: Indonesia, 11.625 persen 4mar2019, USD (USY20721AP44, Y20721AP4)," cuit Rizal Ramli di akun Twitter pribadinya @RamliRizal beberapa waktu lalu.

Selang beberapa jam, Rizal meminta maaf dan memberi klarifikasi bahwa yield 11,625 persen adalah surat utang lama. Dia pun mengklarifikasi bahwa pernyataan dia salah dan meralatnya dengan cuitan terbaru.

"Mohon maaf terjadi kesalahan.... yield 11,625 persen adalah surat utang lama RI. Bukan rencana surat utang baru. Yield utang terbaru Indonesia sekitar 8,5 persen, tetap lebih tinggi dari Vietnam yg hanya 5-6 persen," ujar ekonom senior itu.

Mengenai hal ini, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu Nufransa Wirasakti menegaskan surat utang negara (SUN) berdenominasi valuta asing yang dimaksud Rizal Ramli sebenarnya diterbitkan pada 2009 untuk kebutuhan pembiayaan APBN saat itu.

Pada saat itu, tambah Nufransa, tengah terjadi Asia Financial Crisis, di mana terjadi guncangan pada pasar keuangan dunia yang mengakibatkan peningkatan cost of fund yang tergambar pada meningkatnya yield SUN valas mencapai 11,625 persen.

"SUN valas tersebut akan jatuh tempo pada Maret 2019, dan itu yang diberitakan secara tidak benar, seolah-olah SUN tersebut akan diperpanjang dengan tingkat yield yang sama (dengan 2009)," papar Nufransa, di Jakarta, Senin, 28 Januari 2019. Saat ini, tambah Nufransa, yield SUN dalam USD di pasar sekunder untuk tenor yang sama adalah sekitar 4,24 persen.



(SAW)