Tutup Defisit 2,7%, Pemerintah Punya Sisa Tarik Utang Rp6,2 Triliun Tahun Ini

Suci Sedya Utami    •    Kamis, 24 Nov 2016 21:10 WIB
utang luar negeri
Tutup Defisit 2,7%, Pemerintah Punya Sisa Tarik Utang Rp6,2 Triliun Tahun Ini
Ilustrasi. (FOTO: ANTARA/AKBAR NUGROHO GUMAY)

Metrotvnews.com, Jakarta: Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko mencatat realisasi penyerapan surat berharga negara (SBN) atau penarikan utang hingga saat ini sudah Rp645,65 triliun dari target gross brutonya Rp654,36 triliun pada 2016.

Dengan realisasi itu berarti masih ada sisa SBN yang mesti diterbitkan Pemerintah tahun ini yakni sebesar Rp6,2 triliun.

Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan, Robert Pakpahan di acara investor forum di Hotel Westin, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (24/11/2016), mengatakan jumlah tersebut untuk menambal defisit anggaran sebesar 2,7 persen karena adanya potensi shortfall penerimaan neara Rp219 triliun.

"Sisanya Rp6,2 triliun dengan asumsi kebutuhan defisit 2,7 persen di 2016," kata Robert.

Rencanya sisa Rp6,2 triliun itu akan dieksekusi pada awal Desember 2016 yakni dengan mengandalkan lelang.

Sebelumnya, Pemerintah akan kembali menggunakan strategi front loading yakni penerbitan surat berhaga negara (SBN) atau penarikan utang di semester I 2017. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi jika ada gejolak yang terjadi di semester selanjutnya. Lagi pula, biasanya di semester ke II banyak uang yang sudah digunakan, sehingga lebih baik menarik utang di awal.

Robert Pakpahan porsi front loading 60 persen dari target bruto penerbitan SBN sebesar Rp597,03 triliun atau sebesar Rp358,22 triliun. "Front loading akan tetap dieksekusi, porsinya 60 persen dari target gross," kata Robert.

Dirinya mengatakan, sebesar 44,6 persen dari gross atau Rp266,26 triliun berdenominasi mata uang domestik. Sementara sisanya 15,4 persen atau Rp97,91 triliun merupakan mata uang valas yang terdiri dari USD, EURO serta Yen Jepang.  

Sementara jika dirinci jumlah SBN bruto terdiri dari SBN netto sebesar Rp399,99 triliun untuk menutupi defisit anggaran 2,41 persen, ditambah untuk membayar utang yang jatuh tempo di tahun depan Rp164,02 triliun, SBN cash management sebesar Rp30 triliun serta rencana buy back Rp3 triliun.


(AHL)