Sri Mulyani Memastikan Pemerintah Kelola Utang dengan Hati-hati

Desi Angriani    •    Jumat, 11 Aug 2017 22:59 WIB
utang luar negeri
Sri Mulyani Memastikan Pemerintah Kelola Utang dengan Hati-hati
Menkeu Sri Mulyani. (FOTO: ANTARA/Puspa Perwitasari)

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani memastikan pemerintah akan mengelola utang negara sebesar Rp3.672,33 triliun dengan sangat hati-hati. Utang tersebut terdiri dari Rp2.943 triliun Surat Berharga Negara (SBN) dan Rp728,60 triliun pinjaman luar negeri.

"Untuk pemikiran mengenai utang, pengelolaan utang di Republik Indonesia dilakukan secara hati-hati," kata Sri di Gedung Mar'ie Muhammad Ditjen Pajak, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat 11 Agustus 2017.

Sri menuturkan, utang tersebut akan dipergunakan seproduktif mungkin untuk pembangunan infrastruktur dan fasilitas sosial lainnya. Lagi pula, kata Sri, utang RI masih sangat wajar jika dilihat jumlah, beban bunga dan jatuh tempo.

"Tidak akan dianggap Indonesia negara yang memiliki risiko tinggi kemudian menciptakan beban yang lebih besar lagi di dalam utang kita," tuturnya.

Pengelolaan utang negara selama ini, lanjutnya juga diawasi oleh anggota legislatif selayaknya pembuatan rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN). Dengan begitu, pengelolaan utang tak akan menimbulkan kecurigaan oleh semua pihak.

"Pengelolaan utang merupakan suatu pengelolaan yang sangat baik. Atau baik sehingga bisa menimbulkan kepercayaan kepada seluruh steakholder kita," tandasnya.

Sri menambahkan, rasio utang Indonesia saat ini jauh terkendali bila dibandingkan dengan negara lain. Utang dibuat untuk menjaga kredibilitas APBN dengan menjaga rasio utang terhadap PDB sebesar 28 persen.

Selama Mei 2017, total penerbitan SBN mencapai Rp38,09 triliun sedangkan penarikan pinjaman sebesar Rp1,24 triliun. Pembayaran kewajiban utang di Mei mencapai Rp62,98 triliun, terdiri dari pembayaran pokok utang yang jatuh tempo sebesar Rp39,89 triliun dan pembayaran bunga utang sebesar Rp23,09 triliun.

Dibandingkan bulan sebelumnya, rata-rata perdagangan SBN di pasar sekunder cenderung meningkat. Porsi kepemlikan asing atas SBN yag diperdagangkan pada Mei 2017 mencapai 39,15 persen. Mayoritas investor asing masih memegang SBN dengan jangka waktu di atas lima tahun.

 


(AHL)