Sri Mulyani Ungkap Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Jangka Panjang

Ade Hapsari Lestarini    •    Jumat, 21 Apr 2017 19:26 WIB
pertumbuhan ekonomi
Sri Mulyani Ungkap Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Jangka Panjang
Menkeu Sri Mulyani saat menjadi pembicara di Washington. (FOTO: Dokumentasi Kemenkeu)

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa produktivitas menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Berbicara dalam East Asia Pacific Department (EAP) Seminar on Unleashing Productivity: The Key to Sustainable Inclusive Growth, Sri Mulyani mengungkapkan bila masa depan dunia akan semakin bergantung pada perbaikan produktivitas multifaktor.

"Produktivitas di sektor manufaktur telah mendukung pertumbuhan Total Factor Productivity (TFP) di Indonesia, namun secara keseluruhan pertumbuhannya masih rendah," ujar Menkeu, di gedung J, kantor pusat Bank Dunia, Washington, D.C, Amerika Serikat, seperti dikutip dalam laman Kemenkeu, Jumat 21 April 2017.

Sri Mulyani memaparkan hal tersebut dalam rangkaian acara Bank Dunia/World Bank (WB)-Dana Moneter Internasional/International Monetary Fund (IMF) Spring Meetings 2017. Lebih lanjut, Menkeu menyampaikan bahwa sektor manufaktur sebagai kontributor tertinggi terhadap pertumbuhan PDB di Indonesia, sementara layanan adalah komponen terbesar dalam pertumbuhan ekonomi.

Baca: Menkeu: Bonus Demografi Jadi Keunggulan Indonesia

Menurut dia, Indonesia memiliki bonus demografi, di mana sekitar 60 persen penduduk Indonesia berusia di bawah 39 tahun yang memiliki potensi kreativitas dan inovasi yang sejalan dengan perkembangan teknologi.

"Oleh karena itu, dalam lingkungan yang berubah dimana persaingan global semakin ketat, Indonesia pada dasarnya memiliki banyak potensi dalam mengembangkan kewirausahaan, terutama bagi pengusaha muda dan perempuan," jelas Menkeu.

Menurut dia, pemerintah Indonesia telah menetapkan delapan kebijakan strategis untuk menghidupkan kembali sektor manufaktur di Indonesia.

Pertama, memfasilitasi pertumbuhan industri pendukung, memperbaiki infrastruktur seperti jalan, pelabuhan dan energi. Kemudian meningkatkan iklim investasi, dan mengoptimalkan industri nasional untuk bergabung dengan global value chain.

Kelima, deregulasi yang berkelanjutan dalam bidang logistik dan distribusi, menjamin ketersediaan faktor produksi dengan harga yang kompetitif, khususnya energi.

"Serta meningkatkan produktivitas subsektor manufaktur dengan lapangan kerja yang tinggi melalui penyediaan tenaga kerja yang sangat terampil, dan kedelapan meningkatkan pendidikan melalui pendidikan konvensional dan kejuruan sekolah," pungkasnya.

 


(AHL)