Kenaikan Cukai Rokok Ditaksir tak Sampai 10%

Husen Miftahudin    •    Kamis, 01 Nov 2018 19:20 WIB
cukai tembakau
Kenaikan Cukai Rokok Ditaksir tak Sampai 10%
Ilustrasi tembakau. (FOTO: Medcom.id/Dian Ihsan)

Jakarta: Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Teknis dan Fasilitas Cukai Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Nugroho Wahyu Widodo mengakui besaran kenaikan tarif cukai rokok hingga saat ini belum diputuskan. Namun, ia memastikan kenaikan cukai rokok untuk tahun depan itu tak sampai 10 persen.

Menurutnya, besaran kenaikan tarif cukai rokok yang tak sampai 10 persen karena mempertimbangkan kondisi industri hasil tembakau (IHT) saat ini. Adapun kenaikan besaran tarif rokok akan diumumkan pada 12 November 2018.

"(Kenaikan di bawah 10 persen) hampir pasti. Sudah kami perhatikan (IHT), khususnya yang menyerap tenaga kerja banyak. Pemerintah masih concern masalah itu," ungkap dia, di Jakarta, Kamis, 1 November 2018.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno menyatakan penyerapan tembakau petani oleh pabrikan terus mengalami penurunan. Salah satu sebabnya yaitu kenaikan tarif cukai per tahunnya.

Berdasarkan data APTI, produk olahan tembakau yang dikenakan cukai dengan kenaikan di atas 10 persen akan menurunkan penyerapan tembakau lebih dari dua persen dari produksi nasional atau setara dengan 4.000 hektare (ha) lahan tembakau.

"Berdasarkan pengalaman empat tahun terakhir rata-rata kenaikan cukai yang 12 persen telah menurunkan penyerapan tembakau 3,5 persen dari produksi nasional. Ada lebih dari 10 ribu ha tanaman tembakau yang tidak bisa diserap oleh pabrik," kata dia.

Padahal berdasarkan penelitian pada 2013, lanjut Soeseno,‎ untuk luas lahan yang sama per satu ha, penerimaan tembakau mencapai Rp53.282.874. Angka ini lebih tinggi dibanding penerimaan dari pertanian jenis lain, seperti padi sebesar Rp13.235.778, jagung Rp4.607.162, cabai Rp9.429.971, dan bawang merah sebanyak Rp7.537.791.

Penelitian ini dilakukan di wilayah Lombok Timur, Madura, Jember, Temanggung. Sedangkan data untuk cengkeh diambil dari wilayah Pacitan, Sukabumi, Minahasa, dan Buleleng.

"Dari hasil penelitian tersebut, bisa dilihat fakta menarik bahwa komoditas tembakau dan cengkeh lebih menguntungkan dibandingkan komoditas lainnya," tegas Soeseno.




(AHL)