Menkeu Angkat Isu Gender dalam Pertumbuhan Ekonomi

Eko Nordiansyah    •    Selasa, 09 Oct 2018 20:36 WIB
IMF-World Bank
Menkeu Angkat Isu Gender dalam Pertumbuhan Ekonomi
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati. Dok; ANT.

Nusa Dua: Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengangkat isu peran perempuan dalam pertumbuhan ekonomi. Menurutnya kesempatan perempuan untuk memiliki karier dan berkontribusi terhadap perekonomian di Indonesia masih terbatas.

Dia mengatakan kesetaraan gender masih menjadi isu yang perlu perhatian bagi seluruh pemangku kepentingan. Jika dibiarkan maka kesempatan perempuan untuk berkarier dan berkontribusi terhadap perekonomian akan semakin sempit lagi ke depannya.

"Tanpa adanya bantuan dari kebijakan yang dapat meringankan beban para wanita, maka menggaungkan kesetaraan gender dalam angkatan kerja akan menjadi sangat sulit," kata dia di Nusa Dua, Bali, Selasa, 9 Oktober 2018.

Selain itu, kesempatan perempuan untuk berkarya juga dibatasi oleh keharusan perempuan yang sudah menikah. Mereka akan memiliki beban tambahan ketika hamil lalu melahirkan serta kewajiban lainnya sebagai seorang ibu rumah tangga.

"Ada stereotip bahwa perempuan lemah di bidang matematika dan ilmu pengetahuan alam. Padahal saya mendapati bahwa nilai akademis mereka saat kuliah tinggi, tetapi tantangannya adalah bagaimana mereka dapat survive saat masuk dunia kerja," jelas dia.

Namun perlahan, segala pandangan tersebut mulai digantikan dengan kesempatan yang lebih luas bagi perempuan dalam berkarir. Salah satunya adalah apa yang dilakukan oleh Kementerian Keuangan dalam menyediakan fasilitas bagi pekerja perempuan.

"Kami telah menjadi best practice dan mendapatkan penghargaan, karena kami telah menyediakan berbagai fasilitas untuk pekerja perempuan, misalnya ruang menyusui dan tempat penitipan anak. Dengan demikian kita membantu mengurangi perasaan beban pada pekerja perempuan," pungkasnya.

Selain Sri Mulyani, Managing Director IMF Christine Lagarde menyoroti peran perempuan di era digital seperti sekarang ini. Menurutnya perkembangan teknologi mengancam kesempatan kerja bagi perempuan karena posisinya yang akan tergantikan oleh mesin.

Sementara Executive Secretary UN Economic Commission for Africa Vera Songwe, Executive Director of International Women's Rights Action Watch Pacific Pryanthi Fernando, dan Gubernur Bank of Canada Steve Poloz juga berbagi pengalaman di negara masing-masing.

 


(SAW)