RI tak Ingin Gagal Ambil Keuntungan Ekonomi dari Asian Games

Suci Sedya Utami    •    Senin, 14 May 2018 06:00 WIB
asian games
RI tak Ingin Gagal Ambil Keuntungan Ekonomi dari Asian Games
Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro. ANT/Yudhi Mahatma.

Jakarta: Indonesia tak ingin gagal mengambil keuntungan ekonomi saat menjadi tuan rumah kejuaraan tinggi olahraga dunia. Tahun ini, Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan Asian Games 2018.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional atau Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mencontohkan ada beberapa negara yang menanggung dampak negatif terhadap perekonomiannya saat menjadi tuan rumah.

Pertama Olimpiade di Montreal, Kanada 1976. Pembangunan Olympic Stadium yang dianggarkan USD250 juta pada akhirnya menghabiskan dana USD1,4 miliar. Pembangunan tersebut dibayarkan dalam bentuk utang baru yang dilunasi 30 tahun kemudian.

Kedua, Olimpade musim dingin Nagano, Jepang 1998. Event tersebut membuat utang kota Nagano mencapai USD11 miliar dan membuat kota tersebut jatuh ke dalam resesi setelah pertandingan berakhir serta tak terlalu berdampak positif bagi perekonomiannya.

Ketiga Olimpiade Athena, Yunani 2004. Perhelatan akbar tersebut disebut-sebut memiliki peran terhadap krisis utang Yunani. Selain itu, pemanfaatan sarana olahraga pascaolimpiade tak difungsikan dengan baik.

Keempat Olimpiade di Rio de Janeiro, Brasil 2016. Biaya penyelenggaraan event tersebut mencapai USD10 miliar hingga USD12 miliar. Ketimpangan semakin besar serta harga sewa properti dan makanan meningkat usai acara.

Bambang mengatakan kegagalan tersebut rata-rata karena anggaran pelaksanaan yang besar dan harus ditutup dengan utang yang bertambah dan tidak bisa diantisipasi pemerintah.

"Kebanyakan mereka gagal me-manage keuangan negara jadi utang. Kita buat studi supaya enggak gagal,"  Bambang dalam diskusi menakar potensi ekonomi Asian Games, di Kominfo, Jakarta Pusat, Minggu, 13 Mei 2018.

Bambang memastikan Pemerintah Indonesia bisa mengelola utang dan keuangan negara dengan benar sehingga tak menjadi beban dalam penyelenggaraan acara.

Lebih jauh, kata Bambang, kebayakan dari mereka yang gagal yakni tidak memanfaatkan sarana prasarana yang telah dibangun denga baik. Ia memastikan untuk Indonesia, venue-venue yang telah dibangun dan direnovasi aka difungsikan dengan baik dan memberikan pendapatan bagi negara.

"Contoh yang baik palembang, setelah membangun Jakabaring untuk PON dipakai Sea Games dia dipakai kegiatan lain, banyak kegiatan lain tidak hanya olahraga tapi non olahraga," jelas dia.

Adapun untuk negara-negara yang memperoleh dampak positif dari penyelenggaraan event olahraga yakni The Economic Consequences of the Sydney Olympic 1999. Selama 12 tahun mulai dari persiapan hingga enam tahun setelah acara berlangsung diperkirakan meningkatkan perekonomian New South Wales sebesar USD490 juta per tahun, dan dampak ke produk domestik bruto (PDB) Asutralia diperkirakan mencapai USD6,5 miliar serta meningkatkan lapangan pekerjaan di NSW dan Australia masing-masing sebesar 3.500 dan 7.500 per tahun.

Lalu ada Economic Impact of the London 2012 Olympic anda Paralympic Games di Oxford Economics, 2012. Diperkirakan acara itu berkontribusi pada PDB Inggris sebesar 16,5 miliar euro selama 12 tahun serta meningkatkan kunjungan turis.


(SAW)