Perang Dagang AS Tiongkok

Pertumbuhan Ekonomi RI Diprediksi Terkoreksi ke Bawah

Desi Angriani    •    Selasa, 10 Apr 2018 11:56 WIB
as-tiongkokPerang dagang
Pertumbuhan Ekonomi RI Diprediksi Terkoreksi ke Bawah
Ilustrasi. (Foto: Antara/Vitalis).

Jakarta: Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) danTiongkok dipercaya menambah ketidakpastian global dan memukul pertumbuhan ekonomi dunia, termasuk Indonesia sebagai mitra dagang kedua negara.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan bila barang impor Tiongkok membanjiri pasar Indonesia maka pertumbuhan manufaktur makin tertekan. Hal ini mengakibatkan pertumbuhan ekonomi RI dapat terkoreksi ke bawah dari target pemerintah yang sebesar 5,4 persen.

"Jadi ada korelasi positif antara naiknya tensi perang dagang dengan impor barang konsumsi di Indonesia. Ujungnya growth manufaktur sulit menembus lima persen. Hal ini juga akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi 2018 yang diprediksi akan berada di bawah target 5,4 persen," kata Bhima saat dihubungi Medcom.id di Jakarta, Senin, 9 April 2018.

Bhima menambahkan, trade war bisa meningkatkan ketergantungan impor Indonesia dalam jangka panjang. Apalagi Indonesia termasuk negara dengan hambatan nontarif terendah, yakni hanya 272 jenis lebih rendah dibanding Tiongkok dan AS, yang masing-masing di atas 2.000 jenis. Artinya, Indonesia akan menjadi sasaran empuk bagi barang-barang impor Tiongkok yang terhambat masuk ke AS.

"Dampak ke pelaku usaha khususnya industri manufaktur akibat banjirnya barang dari Tiongkok bisa mempengaruhi permintaan produk lokal, dan menurunkan omzet pelaku usaha kecil," imbuh dia.

Sementara dalam jangka pendek, perang dagang menguncang volatilitas di pasar modal beberapa waktu terakhir. Tercatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tertekan di level 6.150-6.220 dari sebelumnya mencetak rekor 6.662 pada Februari lalu.

Di sisi lain, investor asing bereaksi dengan beralih ke instrumen investasi yang risikonya relatif rendah. Tercatat net sales investor asing di bursa saham awal 2018 hanya sebesar Rp24,2 triliun. Keluarnya modal asing tentu mempengaruhi permintaan rupiah yang akhirnya diproyeksi melemah ke level Rp13.770 sampai Rp13.800 terhadap dolar AS pada pekan ini.

"Harga saham perusahaan yang terkena imbas trade war langsung anjlok," pungkasnya.

 


(AHL)