Jokowi Bersiap Genjot Kembali Amnesti Pajak

Eko Nordiansyah    •    Kamis, 24 Nov 2016 15:14 WIB
tax amnesty
Jokowi Bersiap Genjot Kembali Amnesti Pajak
Presiden Joko Widodo. (FOTO: AFP)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah berusaha untuk terus menggenjot keberhasilan program pengampunan pajak (tax amnesty). Bahkan Presiden Joko Widodo bersiap untuk terjun langsung mengajak wajib pajak untuk ikut tax amnesty di periode kedua yang berlaku hingga Desember.

Pada akhir periode tax amnesty ini, Jokowi akan kembali menyosialisasikan periode kedua tax amnesty. Sebab, kata dia, masih banyak peluang untuk menambah penerimaan negara dari program tersebut mengingat dana repatriasi yang baru masuk sebesar Rp143 triliun.

"Sekali lagi, tax amnesty kita sudah jadi program tax amnesty yang paling sukses dalam sejarah dunia. Dan masih ada lagi baik deklarasi, repatriasi aset menjelang deadline periode kedua ini. Biasanya kan bayarnya mepet mendekati akhir," ujarnya di JCC, Senayan, Jakarta, Kamis (24/11/2016).

Baca: Trump akan Contek Program Tax Amnesty Indonesia?

Dirinya akan berusaha mengajak para wajib pajak untuk tidak melakukan deklarasi pada akhir periode. Hal ini berkaca pada apa yang terjadi di periode pertama bahwa masyarakat lebih banyak mendaftarkan tax amnesty pada akhir periode.

Sementara untuk periode ketiga, Jokowi berharap jika lebih banyak lagi wajib pajak yang ikut amnesti pajak. Khususnya untuk para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) yang diharapkan bisa lebih banyak untuk mendeklarasikan harta di tax amnesty.

"Jadi di sana-sini masih banyak cerita adanya aset yang ketinggalan, yang belum bisa masuk ke dalam program tax amnesty, ini yang akan trus kita dorong," jelas dia.




Selain itu, Jokowi memandang jika keberhasilan tax amnesty telah membawa tambahan bagi cadangan devisa. Bahkan kepercayaan investor asing terhadap Indonesia mengalami peningkatan berkat keberhasilan program pengampunan pajak tersebut.

"Berkaitan dengan cadangan devisa di Bank Indonesia (BI), bisa kita lihat melonjak dari kira-kira USD100 miliar di awal tahun, sekarang sudah jadi USD115 miliar ini lonjakan tajam antara lain berkat arus uang masuk capital inflow, karena tax amnesty," pungkasnya.


(AHL)