Rupiah Terdepresiasi 1,5% Sejak Januari hingga Maret

Eko Nordiansyah    •    Jumat, 09 Mar 2018 15:06 WIB
bank indonesiarupiah melemahkurs rupiah
Rupiah Terdepresiasi 1,5% Sejak Januari hingga Maret
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo. (FOTO: Medcom.id/Angga)

Jakarta: Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar rupiah mengalami depresiasi sebesar 1,5 persen sejak awal Januari sampai dengan Maret 2018. Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ini jauh di atas depresiasi rupiah sepanjang tahun lalu yang hanya tercatat sebesar 0,71 persen.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan pada Januari lalu rupiah sempat mengalami penguatan hingga ke level Rp13.200 per USD. Sementara tekanan eksternal pada Februari sampai dengan awal Maret ini membuat nilai tukar rupiah mencapai Rp13.700 Rp13.750 per USD.

"Bank Indonesia selalu mengikuti, selalu melihat dan memahami kondisi yang ada dinamika, ini Januari, Februari, Maret dalam banyak hal (pelemahan rupiah) adalah karena eksternal," kata Agus ditemui di Kompleks Perkantoran BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat, 9 Maret 2018.

Dirinya menambahkan penguatan rupiah pada Januari tak lepas dari perbaikan rating dari sejumlah lembaga pemeringkat internasional. Namun pada Februari-Maret tekanan yang berasal dari AS mulai muncul, terlebih ketika Jarome Powell resmi menjabat Gubernur bank sentral AS.

"Ketika pimpinan the Fed Jarome Powell sampaikan sambutan di depan senat, diungkapkan optimisme AS lebih baik dan ditangkap pasar akan naikan Fed Fund Rate lebih dari tiga kali. Optimisme AS, dolar menguat dampaknya mata uang negara lain ada tekanan," jelas dia.

Lebih lanjut, bank sentral memandang rupiah masih dalam kondisi yang wajar sebagaimana tekanan eksternal yang kuat. Namun begitu, BI memastikan akan selalu hadir di pasar uang untuk menjaga stabilitas rupiah sesuai dengan fundamentalnya.

"Kalau rupiah year to date ada depresaiai 1,5 persen adalah kondisi yang wajar. Dan kami sampaikan kalau terjadi volatilitas atau fluktuasi nilai tukar rupiah yang tidak terlola dengan baik, Bank Indonesia hadir, Bank Indonesia menjaga sehingga volatilitas di batas yang stabil," pungkasnya.

 


(AHL)