Daya Beli Masyarakat Turun karena Data Tidak Menyeluruh

Eko Nordiansyah    •    Kamis, 03 Aug 2017 16:12 WIB
ekonomi indonesia
Daya Beli Masyarakat Turun karena Data Tidak Menyeluruh
Illustrasi. MI/ROMMY PUJIANTO.

Metrotvnews.com, Jakarta: Bank Indonesia (BI) menilai jika kondisi daya beli masyarakat yang sedang mengalami penurunan disebabkan oleh data yang tidak menyeluruh. Kondisi ini juga menyebabkan penurunan daya beli tak bisa diukur sebagaimana kondisi riilnya di lapangan.

"Ada data-data yang dari sisi misal ritel, produksi, impor menunjukan perlambatan. Kalau di total Kuartal II ada penurunan," kata Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter, Dody Budi Waluyo di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis 3 Agustus 2017.

Meski secara data penjualan ritel mengalami penurunan, tapi di sisi lain penjualan melalui online tak banyak diperhitungkan dalam statistik. Padahal transaksi penjualan online sedang marak di masyarakat karena bisa mengefisiensikan rantai perdagangan.

"Data-data transaksi dari online, secara statistik tidak tercover. Kami sedang kaji dengan BPS, kalau dilihat kegiatan melalui online itu memotong rantai perdagangan, beberapa step di tengah akan hilang. Bagi konsumen harga lebih efisien, harga lebih murah," jelas dia.

Dirinya menambahkan, adanya transaksi online ini juga mengurangi peran daripada toko karena masyarakat berhubungan langsung dengan penjual utama. Dengan begitu maka peran perantara dalam PDB mengalami penurunan.

"Ini akan mengenerated yang dulu di tengah memberi nilai tambah, itu akan hilang. Misal, perantara satu dua dan tiga dalam statistik PDB akan memberi nilai tambah, packing misal, bisa saja angka PDB-nya sedikit lebih generate dari angka berikutnya," pungkasnya.

Untuk tahun ini, bank sentral meyakini jika pertumbuhan ekonomi masih bisa mencapai sekira 5,2 persen. Hal ini masih sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi nasional 2017 sebesar lima sampai dengan 5,4 persen.


(SAW)