LPS Catat Risiko Likuiditas Perbankan Meningkat jadi 93,11%

Husen Miftahudin    •    Rabu, 12 Sep 2018 23:54 WIB
lps
LPS Catat Risiko Likuiditas Perbankan Meningkat jadi 93,11%
LPS. Dok : MI.

Jakarta: Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat loan to deposit ratio (LDR) bank umum pada Juli 2018 sebesar 93,11 persen. Posisi tersebut meningkat bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya pada tingkat 92,13 persen

Meski demikian, Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah mengaku kondisi likuiditas masih cukup stabil. Walaupun potensi risiko likuiditas terus mengalami kenaikan di tengah tren kenaikan bunga simpanan dan membaiknya penyaluran kredit.

"Kami melihat memang risiko likuiditas masih cukup tinggi pada periode September-Desember. Tentu saja akan menjadi risiko likuiditas yang perlu kita amati," ujar Halim dalam konferensi pers di kantor LPS, Equity Tower, Kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Rabu, 12 September 2018.

Dia mengingatkan industri perbankan perlu meningkatkan kewaspadaan selama empat bulan terakhir di 2018. Pasalnya, tekanan ekonomi eksternal berpotensi kian menguat seiring rencana kenaikan suku bunga the Federal Reserve sebanyak dua kali.

Potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS pada September dan Oktober di tahun ini bakal berdampak pada kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). Hal tersebut memicu perbankan nasional menaikkan suku bunga simpanan.

Selain itu, perbankan juga diperkirakan akan memburu likuiditas di sisa tahun. Ini lantaran pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) melambat.

Pada Juli 2018, pertumbuhan DPK hanya 6,88 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Posisi tersebut turun dibanding catatan pertumbuhan DPK pada Juni 2018 sebesar 6,99 persen.

Padahal perbankan membutuhkan dana dari pertumbuhan kredit. Di Juli 2018, pertumbuhan kredit perbankan melaju hingga 11,54 persen secara tahunan. Tumbuh pesat dibanding posisi Juni 2018 yang berada di posisi 11,09 persen.

"Pada saat yang sama perbankan juga di tengah laju pertumbuhan kredit yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan simpanan, memberikan waktu untuk merespons menaikkan bunga simpananya," pungkas Halim.


(SAW)