Luhut: Rupiah Perlu Dijamin Stabil Tarik DHE ke Indonesia

Annisa ayu artanti    •    Jumat, 03 Aug 2018 14:37 WIB
ekonomi indonesiadevisa hasil ekspor
Luhut: Rupiah Perlu Dijamin Stabil Tarik DHE ke Indonesia
Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu Artanti)

Jakarta: Pemerintah melalui Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman menilai perlu ada jaminan nilai tukar rupiah terjaga stabilitasnya terhadap dolar Amerika Serikat (USD) agar Devisa Hasil Ekspor (DHE) dapat dipulangkan ke Tanah Air. Untuk itu, semua pihak terkait harus bersama-sama menjaga agar nilai tukar rupiah tidak terus bergejolak.

Menteri Kordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menilai terciptanya stabilitas nilai tukar rupiah menjadi penting lantaran eksportir masih enggan memulangkan DHE ke dalam negeri. "Tapi pemerintah harus menjamin juga. Jangan mereka (eksportir) saja," kata Luhut, di Kantor Kemenko Kemaritiman, Jakarta, Jumat, 3 Agustus 2018.

Namun, Luhut menambahkan, pemerintah sudah sering kali mengimbau kepada para eksportir agar mereka memulangkan devisa hasil ekspornya ke Indonesia. Tidak harus dalam jangka waktu yang lama, luhut menyebutkan, lantaran enam bulan sudah cukup.

"Kamu sebagai orang Indonesia kan kamu menikmati Indonesia, kamu ekspor, ya tolong bawa ke dalam dulu duitmu atau dolarmu lalu konversi ke sini. Enam bulan atau berapa," tegas luhut.



Menurut Luhut jika DHE berhasil ditarik ke dalam negeri akan berkontribusi terhadap perbaikan perekonomian Indonesia yang sempat dikatakan 'bocor' oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution.

Sebelumnya, dalam acara di Hotel Aryaduta, Darmin mengatakan, ekonomi Indonesia masih rentan terhadap gejolak perekonomian global karena masih sangat bergantung pada arus modal asing. Kondisi ini terjadi karena tabungan masyarakat Indonesia terbilang rendah sehingga kebutuhan dana di dalam negeri dipenuhi oleh asing.

Menurut dia kondisi seperti ini juga membuat kebocoran dana asing yang masuk ke Indonesia. Salah satunya adalah DHE yang masuk ke dalam negeri baru mencapai 80 sampai 81 persen, sedangkan sisanya disimpan di luar negeri.

"Dalam kaidah ekonomi kalau devisanya tidak masuk itu bocor, sehingga mengurangi, satu cadangan devisa, juga mengurangi kemampuan penambahan uang beredarnya karena tambahan itu langsung valas masuk, sebab perubahan uang beredar salah satu ekspor impor," jelas Darmin.

 


(ABD)