BPS: Target Ekonomi Tumbuh 7% Sulit Dicapai

Husen Miftahudin    •    Rabu, 06 Feb 2019 18:54 WIB
pertumbuhan ekonomibpsekonomi indonesia
BPS: Target Ekonomi Tumbuh 7% Sulit Dicapai
Kepala BPS Kecuk Suharyanto - - Foto: MI/ Adam Dwi

Jakarta: Semasa kampanye Pilpres 2014, Joko Widodo sempat mematok optimistis target pertumbuhan ekonomi sebesar tujuh persen. Sayang, target yang dijanjikannya itu tak jua berhasil dicapai.

Di awal masa kepemimpinan Jokowi, perekonomian domestik hanya tumbuh 4,88 persen pada 2015. Teranyar, pertumbuhan ekonomi hanya tumbuh 5,17 persen pada tahun lalu.

Menurut Kepala BPS Suhariyanto, target tujuh persen pertumbuhan ekonomi sulit dicapai. Dia menyebut banyak variabel dan komponen tak terduga yang mengganjal laju pertumbuhan ekonomi domestik.

"Saya melihatnya kalau tujuh persen (pertumbuhan ekonomi) akan berat sekali," ujar Suhariyanto dalam konferensi pers Pertumbuhan Ekonomi di kantor pusat BPS, Jalan Dr Sutomo, Jakarta Pusat, Rabu, 6 Februari 2019.

Suhariyanto bilang, target pertumbuhan ekonomi sebesar tujuh persen harus dipandang sebagai proyeksi pemerintah yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). "Ketika kita membuat proyeksi pertumbuhan ekonomi, misalnya sekarang 2019, itu prediksinya untuk 2024," ungkapnya.

Ia melanjutkan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan pun tak semulus impian. Sebab dalam perjalanannya, banyak variabel dan komponen tak terduga.

"(Dalam proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik) kita tidak pernah memikirkan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunganya begitu sering. Kita juga tidak pernah berpikir bahwa perang dagang kan muncul dan begitu signifikan pengruhnya," tutur Suhariyanto.

Meskipun demikian, capaian pertumbuhan ekonomi 2018 yang tumbuh 5,17 persen patut disyukuri. Di tengah gejolak ekonomi global ditambah perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, ekonomi Indonesia mampu tumbuh.

"Dengan memperhatikan bahwa perekonomian global saat ini yang memang agak buram dengan pergerakan harga komoditas yang fluktuatif kemudian negara tujuan utama juga mulai melambat, saya bilang 5,17 persen bagus sekali dibandingkan dengan negara-negara lain. Meski kita bukan yang terbaik," tutup dia.

 


(Des)