BSM Bukukan Laba Bersih Naik 12,22% di 2017

Angga Bratadharma    •    Kamis, 08 Mar 2018 14:47 WIB
bsm
BSM Bukukan Laba Bersih Naik 12,22% di 2017
Direktur Utama BSM Toni EB Subari (Foto: MTVN/Angga Bratadharma)

Jakarta: PT Bank Syariah Mandiri (BSM) membukukan laba bersih sebesar Rp365 miliar di sepanjang 2017. Perolehan tersebut naik sebanyak 12,22 persen secara tahun ke tahun dibandingkan dengan periode yang sama di 2016 yang sebesar Rp325 miliar.

Direktur Utama BSM Toni EB Subari menjelaskan pertumbuhan laba ditopang meningkatnya marjin bagi hasil bersih dan Fee Based Income (FBI) di 2017 yang naik Rp701 miliar atau secara tahunan tumbuh14,35 persen menjadi Rp5,58 triliun. Sedangkan marjin bagi hasil bersih tumbuh Rp617 miliar atau 15,35 persen yoy menjadi Rp4,64 triliun dibandingkan Rp4,02 triliun.

"Pertumbuhan marjin bagi hasil bersih tersebut didorong oleh pertumbuhan pembiayaan dan perbaikan kolektibilitas pembiayaan," ungkap Toni, dalam sebuah konferensi pers, di Jakarta, Kamis, 8 Maret 2018.

Toni menambahkan ketatnya kondisi ekonomi selama 2017 turut meningkatkan persaingan dalam penghimpunan dan penyaluran dana. Namun, sampai dengan akhir kuartal IV-2017, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun BSM tumbuh 11,37 persen yoy atau naik Rp7,95 triliun dari Rp69,95 triliun per Desember 2016 menjadi Rp77,90 triliun pada Desember 2017.

Dari total dana tersebut, lanjutnya, sebesar 51,80 persen atau Rp40,36 triliun merupakan dana murah yang tumbuh 16,36 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada Desember 2016 yang sebesar Rp34,68 triliun. Komposisi dana murah meningkat dari 49,58 persen di Desember 2016 menjadi 51,80 persen di Desember 2017.

Pertumbuhan dana murah ditopang oleh tabungan yang naik 13,13 persen menjadi Rp31,39 triliun per posisi Desember 2017 dari semula Rp27,75 triliun per posisi Desember 2016. Giro naik sebesar 29,31 persen yoy menjadi Rp8,96 triliun per posisi Desember 2017 dibandingkan dengan posisi Desember 2016 sebesar Rp6,93 triliun.  

Ia mengklaim posisi tabungan BSM berada di peringkat sembilan perbankan nasional yang menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap Mandiri Syariah. "Strategi penghimpunan dana ke depan adalah dengan terus meningkatkan komposisi dana murah yaitu tabungan dan giro untuk menekan cost of fund," ungkap Toni EB Subari.

"Peningkatan DPK mendorong aset Mandiri Syariah per Desember 2017 naik 11,55 persen yoy menjadi Rp87,94 triliun dibandingkan dengan sebesar Rp78,83 triliun per posisi Desember 2016," tukasnya.

Untuk pembiayaan, sampai dengan kuartal IV-2017, BSM berhasil menyalurkan sebesar Rp60,69 triliun atau tumbuh 9,20 persen dibandingkan dengan Rp55,58 triliun pada Desember 2016. Penumbuhan pembiayaan tersebut diimbangi dengan perbaikan kualitas pembiayaan yang tercermin dari penurunan NPF nett turun dari 3,13 persen menjadi 2,71 persen.

Sejalan dengan refocusing bisnis bank, segmen ritel mencatatkan pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan dengan wholesale. Segmen ritel yang terdiri atas pembiayaan di bidang konsumer, pawning, dan UMKM tumbuh sebesar 11,48 persen semula Rp30,78 triliun menjadi Rp34,31 triliun.  

Adapun pembiayaan segmen korporasi tumbuh 5,50 persen yoy yakni semula Rp24,77 triliun menjadi Rp26,13 triliun. Untuk korporat, Mandiri Syariah membidik sektor korporat Murni terutama terkait infrastruktur, BUMN, pendidikan, perkebunan, kesehatan dan supply chain.

"Sementara untuk pembiayaan segmen UMKM, Mandiri Syariah memiliki portofolio sebesar 21,77 persen. Fee based income juga tumbuh 9,67 persen menjadi Rp943 miliar dari semula Rp860 miliar," pungkasnya.


(ABD)