BCA Akui Bisnis Uang Elektronik Belum Menguntungkan

Eko Nordiansyah    •    Rabu, 21 Jun 2017 07:25 WIB
bca
BCA Akui Bisnis Uang Elektronik Belum Menguntungkan
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja (MI/IMMANUEL ANTONIUS)

Metrotvnews.com, Jakarta: PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA mencatat jika bisnis uang elektronik belum memberi keuntungan signifikan bagi bank. Apalagi dana mengendap dari bisnis tersebut bisa dibilang masih minim sehingga tak bisa digunakan oleh bank.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, dana mengendap dari bisnis uang elektronik belum begitu besar. Sehingga jika marjin itu bisa lebih besar maka bank bisa memanfaatkan dana tersebut untuk menutupi biaya yang dikeluarkan untuk layanan itu.

"Karena bank itu kan dapatnya hasilnya dari dana endapan masyarakat. Kalau satu kartu dana endapananya Rp3 juta kan lumayan," kata Jahja, di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta Pusat, Selasa 20 Juni 2017.

Meski demikian, Jahja mengakui, jika adanya layanan uang elektronik akan memudahkan masyarakat dalam melakukan transaksi nontunai. Bagi bank, adanya uang elektronik dapat mengurangi biaya yang harus dikeluarkan bank jika menyediakan uang tunai.

"Karena itu alternatif kan, kita juga positifnya memang begini kalau itu berkembang, mengurangi yang beban tadi (penyediaan uang) tunai. Untungnya di situ buat bank, tapi enggak direct produk tunai, mengurangi biaya dengan handling nontunai," jelas dia.

Dirinya menambahkan, jika ada biaya untuk setiap isi ulang (top up) uang elektronik akan meringankan biaya yang dikeluarkan bank. Sementara itu, pengenaan fee isi ulang uang elektronik seperti yang dilakukan PT Transjakarta tidak masuk sebagai keuntungan bank.

"Coba kalau setiap transaksi kena Rp300, misalnya, itu jatuhnya lebih mahal. Kalau setiap top up Rp1.000 sampai Rp2.000 sudah jadi sekaligus. Itu (biaya top up di luar bank) bukan buat bank, buat mereka. Bank masih belum terima apa-apa," pungkasnya.

 


(ABD)