Ketatnya Likuiditas Ketat, BNI Targetkan Kredit Tembus 17% di 2016

Dian Ihsan Siregar    •    Kamis, 13 Oct 2016 20:15 WIB
bni
Ketatnya Likuiditas Ketat, BNI Targetkan Kredit Tembus 17% di 2016
Direktur Utama BNI Achmad Baiquni (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan).

Metrotvnews.com, Jakarta: Hingga kuartal III-2016, posisi loan to deposit ratio (LDR) PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencapai 92,8 persen atau menembus batas minimal yang disarankan Bank Indonesia (BI). Dengan keterbatasan likuiditas, perseroan optimistis bisa meraih pertumbuhan kredit di kisaran 16-17 persen hingga akhir 2016.

"Pertumbuhan kredit hingga akhir 2016 diharapkan sebesar 16-17 persen. Kalau secara year-to-date hingga September 2016 tumbuh sebesar 14 persen. Ke depan, yang membatasi pertumbuhan kredit adalah likuiditas," ujar Direktur Utama BNI Achmad Baiquni, ditemui dalam acara paparan kinerja keuangan BNI kuartal III-2016 di kantor pusat BNI, Jakarta, Kamis (13/10/2016).

Meski posisi LDR BNI telah menembus batas minimal BI sebesar 92 persen, tapi Baiquni mengakui, tingkat likuiditas perseroan masih di posisi aman. 

"Sebab, sumber dana kami di luar komponen LDR masih besar, seperti pinjaman antarbank," jelas Baiquni.

Tingkat LDR sebesar 92,8 persen, sambung Baiquni, belum akan membuat perseroan diganjar sanksi kenaikan Giro Wajib Minimum (GWM). Hal itu dikarenakan, posisi rasio kecukupan modal (CAR) BNI mencapai 18,4 persen di kuartal III 2016. 

"Kami akan berusaha menjaga LDR di bawah 92 persen hingga akhir 2016," janji Baiquni.

Sepanjang kuartal III-2016, BNI mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp372,02 triliun. Angka itu naik 21,1 persen bila dibanding kredit  di periode yang sama di 2015 dengan mencapai Rp307,12 triliun. 

"Terjadi percepatan penyaluran kredit sejak kuartal I-2016 yang disebabkan oleh kebijakan-kebijakan yang ditempuh manajemen. Kredit kuartal III ini juga jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan kredit di industri yang mencapai 7,6 persen per Agustus 2016," ungkap Baiquni.

Penyaluran kredit BNI ke sektor business banking masih menjadi yang terbesar dengan komposisi 73 persen dari total kredit atau sebesar Rp271,68 triliun. Aliran kredit ke sektor business banking ini tumbuh 23,5 persen bila dibanding periode yang sama di 2015. 

Pada sektor business banking, kredit BNI disalurkan ke segmen korporasi sebesar 24,3 persen, kredit BUMN 19,1 persen, segmen menengah 16,3 persen, dan segmen kecil 13,3 persen.

Selain penyaluran kredit ke sektor business banking, lanjut Baiquni, perseroan juga mengucurkan pembiayaan ke sektor consumer banking dengan alokasi 16,9 persen dari total kredit, terutama pada kredit kepemilikan rumah (BNI Griya), kartu kredit, dan fleksi. Kredit ke sektor consumer banking tumbuh 14,4 persen.

Sementara itu, posisi tingkat kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) meningkat menjadi 3,1 persen di kuartal III 2016, jika dibandingkan periode yang sama di 2015, sedangkan NPL net pada sembilan bulan pertama tahun ini sebesar 0,7 persen.


(SAW)