Peran Perbankan Syariah ke Ekonomi Nasional

Angga Bratadharma    •    Senin, 10 Dec 2018 13:58 WIB
perbankan syariah
Peran Perbankan Syariah ke Ekonomi Nasional
Illustrasi. MI/Ramdani.

Jakarta: Industri perbankan syariah memiliki peran yang penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan perbankan syariah yang hingga September 2018 tumbuh 15,6 persen atau lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan perbankan konvensional yang hanya mencapai 8,24 persen.

Meski demikian, Enterprise Risk Management Group Head Bank Syariah Mandiri M Fanny Fansyuri tidak menampik, ada beberapa hal yang membuat ekonomi syariah atau secara khusus perbankan syariah sulit berkembang. Hal itu seperti masyarakat yang belum mau mengakses bank syariah.

"Padahal sebetulnya syariah itu diartikan damai dan tentram. Menjadi pertanyaan kenapa masyarakat tidak mau bergabung dengan aman dan tentram ini. Syariah bukan sesuatu yang menakutkan," kata Fanny, di Auditorium Universitas Al Azhar, Jakarta, Senin, 10 Desember 2018.

Fanny, dalam Seminar Indonesia Shariah Economic Outlook bertajuk "Peluang Bisnis Syarah di Tahun Politik 2019", menambahkan kondisi itu yang juga membuat bisnis di perbankan syariah lebih menantang dibandingkan dengan di bank konvensional. Bahkan, kian berat ketika Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan aturan pengelolaan risiko yang lebih banyak.

"Dalam bank syariah lebih berat dan risikonya tinggi. OJK dalam hal mengatur pengelolaan risiko itu untuk bank konvensional ada delapan jenis risiko. Tetapi di syariah itu ada 10 jenis syariah. Dari sini saja sudah kelihatan mana yang lebih berisiko," tuturnya.

Padahal, masih kata Fanny, perbankan syariah memiliki beberapa peran terhadap perekonomian nasional. Pertama, munculnnya ekosistem syariah lainnya. Kedua, memberi manfaat bagi pemerintah. Ketiga, mendukung pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Kondisi ini yang seharusnya memicu perbankan syariah terus didukung pertumbuhannya.

Lebih lanjut, tambah Fanny, semakin ke depan tantangan akan kian sulit. Apalagi, ketidakpastian ekonomi terutama dari sisi ekonomi global bisa memberikan tekanan terhadap negara berkembang tidak terkecuali di Indonesia. Salah satu faktor utamanya adalah pengetatan kebijakan moneter yang berdampak terhadap mengetatnya likuiditas di Tanah Air.

"Semakin ke depan kita akan semakin sulit dalam kondisi sekarang ini. Jadi, yang namanya ketidakpastian itu ya karena ketidakpastian itu sendiri," pungkasnya.


(SAW)


Trump Prediksi AS-Tiongkok Capai Kesepakatan
Akhiri Perang Dagang

Trump Prediksi AS-Tiongkok Capai Kesepakatan

1 day Ago

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memprediksi Amerika Serikat akan mencapai kesepakata…

BERITA LAINNYA