Stance BI Waspada Perang Suku Bunga Negara ASEAN

Husen Miftahudin    •    Selasa, 06 Nov 2018 16:47 WIB
bank indonesiasuku bunga
<i>Stance</i> BI Waspada Perang Suku Bunga Negara ASEAN
Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)

Jakarta: Bank Indonesia (BI) masih terus memantau dinamika perekonomian global sebelum menentukan arah kebijakan moneter (stance). Termasuk mewaspadai perang suku bunga yang terjadi di kawasan ASEAN.

Kata Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo, kenaikan suku bunga yang terjadi di negara ASEAN untuk mengantisipasi pengetatan likuiditas. Negara-negara di Asia Tenggara tengah berebut aliran modal asing untuk masuk ke pasar keuangan domestik.

"Semua negara dalam suku bunga tinggi berusaha menarik aliran modal yang terbatas ke masing-masing (negara). Jadi seolah ada bagaimana men-track suku bunga lebih menarik agar inflow terjadi," ujar Dody di Hotel Pullman, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa, 6 November 2018.

Dalam hal ini, Bank Sentral mengambil sikap berhati-hati dalam menetapkan suku bunga acuan. Otoritas moneter mempertimbangkan segala aspek termasuk risiko yang muncul jika menaikkan suku bunga.

"Jadi stance (BI) itu sendiri apakah kita akan mengubah posisi suku bunga sangat data dependen, bagaimana perkembangannya terjadi. Kita belum bisa mengatakan bahwa suku bunga akan naik atau turun atau tetap, tergantung bagaimana kita asesmen ke depannya," beber dia.

Di bagian lain, BI juga sedang menunggu hasil pertemuan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Sebab hasil pertemuan pemimpin kedua negara adidaya itu bakal mempengaruhi nilai tukar mata uang negara-negara berkembang.

"Semua berharap positif pertemuan Presiden Trump dengan Presiden Xi Jinping untuk memberikan solusi yang positif. Jadi ini dampaknya positif untuk emerging currency, termasuk rupiah," pungkas Dody.

Hingga September 2018, BI mengambil sikap hawkish sebagai respons atas terus tergerusnya nilai tukar rupiah terhadap USD. Dari awal tahun hingga September 2018, Bank Sentral telah mengerek suku bunga acuan hingga 150 basis poin menjadi 5,75 persen.

 


(AHL)