Kolaborasi Perbankan dengan Startup

Ade Hapsari Lestarini    •    Jumat, 07 Dec 2018 18:43 WIB
btnstartup
Kolaborasi Perbankan dengan <i>Startup</i>
Direktur Utama BTN Maryono (kedua dari kanan) bersama Presiden Joko Widodo. (FOTO: dok BTN)

Jakarta: PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) berkolaborasi dengan empat startup untuk mendukung bisnis perseroan. Empat startup tersebut yakni KYCK!, ManPro, Gradana, dan Buildeco.

"Kami berkolaborasi dengan empat startup ini untuk mendukung bisnis di antaranya mempercepat pelayanan kepada nasabah. Kalau untuk akuisisi masih perlu kajian lebih lanjut," ujar Direktur Utama BTN Maryono di sela-sela acara Digital Start Up Connect 2018, seperti dikutip dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat, 7 Desember 2018.

Maryono mengungkapkan, untuk kolaborasi dengan KYKC! akan mempermudah nasabah BTN mengisi data dalam pembukaan rekening tabungan. Dengan penggunaan teknologi optical character recognation (OCR) pembukaan rekening tabungan hanya memerlukan foto KTP. Kemudian dengan Manpro, BTN bekerja sama dalam penggunaan aplikasi monitoring pembangunan proyek perumahan agar sesuai dengan rencana anggaran biayanya.

Sementara dengan Gradana, BTN bekerja sama dalam KPR autoapproval untuk pasar properti. Di mana Gradana akan membantu debitur dalam pencicilan uang muka KPR. "BTN dan Gradana bekerja sama dalam pembelian properti. BTN memberikan pencairan berdasarkan analisis kredit dan Gradana memberikan pencairan sejumlah uang muka kepada debitur," paparnya.

Maryono melanjutkan, untuk kerja sama dengan Buildeco, BTN akan bekerja sama dalam portal perdagangan elektronik untuk pembelian bahan bangunan bagi mitra perseroan untuk mendukung program sejuta rumah, program konstruksi dan program infrastruktur lainnya.

"Dengan jumlah pengguna internet yang terus meningkat di Indonesia, perkembangan startup semakin pesat, terutama e-commerce dan financial technology karena itu perbankan harus memanfaatkan mereka sebagai peluang bisnis sekaligus mitra untuk meningkatkan layanan digital perbankan," katanya.

Strategi Mendongkrak Kerja Sama

Oleh karena itu perseroan akan melakukan sejumlah strategi untuk memanfaatkan perkembangan ekosistem digital di Indonesia. Strategi pertama, jelas dia, adalah bermitra dengan Plug n Play Indonesia dalam mencari perusahaan-perusahaan startup yang akan dijadikan sebagai strategic partner BTN untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan BTN dalam bertransformasi digital.

"Disrupsi ekonomi tidak dapat dihindari, selain mengoptimalkan perputaran dana dari para unicorn di ekosistem digital, perbankan pun harus fleksible membuka peluang kerja sama dengan startup dan fintech untuk meningkatkan service excellence layanan perbankan, yang berdampak pada peningkatan customer trust dan peningkatan fee based income," jelas Maryono.

Strategi kedua adalah penguatan e-channel, BTN akan fokus meningkatkan kolaborasi dengan e-commerce dan fintech. Salah satunya dengan menjadi e-commerce acquirer mengingat transaksi e-commerce di Indonesia tumbuh sangat pesat.

Maryono menuturkan tren ke depan e-commerce diramalkan akan terus mendominasi perkembangan startup di Indonesia bersama dengan financial technology. Menurut dia, kebutuhan dana dan kredit akan terus meningkat, karena itu perbankan harus cepat beradaptasi dengan perkembangan digital teknologi bersaing dengan maraknya peminat fintech, BTN berencana membuat aplikasi bergerak atau mobile apps untuk agen laku pandai dan digital on boarding untuk aplikasi kredit maupun pembukaan rekening.

"Startup harus dirangkul perbankan, karena menguntungkan perbankan dan yang terpenting mempermudah masyarakat menikmati akses layanan perbankan yang mereka butuhkan," kata dia.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam sambutannya mengatakan pemerintah terus mendorong lahirnya berbagai start up demi menjadikan Indonesia sebagai negara dengan ekonomi digital terbesar di ASEAN. Saat ini perusahaan Indonesia sudah menjadi unicorn di ASEAN, seperti Traveloka, Bukalapak, Tokopedia dan Go-Jek.

"Dari tujuh unicorn di ASEAN, empatnya berasal dari Indonesia dan saya yakin jumlahnya akan terus bertambah," tegas Jokowi.

Menurut Jokowi, selain pengembangan ekonomi digital, dia meminta kepada Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk menyinergikan antara perkembangan industri kreatif offline dengan yang online.

"Saya mencatat ada 62 juta usaha mikro dan kecil. Ini kebanyakan masih offline perlu pembinaan dan sinergi agar mereka bisa melakukan branding dengan baik dan pengemasannya juga baik. Nah ini perlu bantuan dari perusahaan berbasis teknologi," katanya.


(AHL)


Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

16 hours Ago

Keputusan pemerintah melebur BP Batam ke Pemerintah Kota Batam mendapat respons dan tanggapan b…

BERITA LAINNYA