UKM Binaan LPEI Bukukan Ekspor Rp760,85 Juta

Ade Hapsari Lestarini    •    Kamis, 01 Nov 2018 16:15 WIB
indonesia eximbank
UKM Binaan LPEI Bukukan Ekspor Rp760,85 Juta
Indonesia Eximbank di TEI 2018. (FOTO: Medcom.id/Ilham Wibowo)

Jakarta: Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)/Indonesia Eximbank telah memboyong 44 UKM binaan yang merupakan peserta dari program Coaching Program for New Exporters (CPNE) dengan kesempatan terbuka untuk bertemu dengan calon pembeli di Trade Expo Indonesia (TEI) 2018.

"LPEI melakukan pendampingan, pelatihan packaging, bagaimana membuat desain yang baik, bagaimana memasarkan, juga bagaimana meng-handle order. Ini sudah kami lakukan sejak 2015," papar Direktur Eksekutif LPEI Sinthya Roesly dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 1 November 2018.

Menurut Sinthya UKM dapat mengikuti program CPNE selama memenuhi klasifikasi dari LPEI, antara lain memiliki produk berorientasi ekspor unggulan, memiliki staf minimal tiga orang, memiliki platform komunikasi berupa email, telah memiliki pasar baik domestik maupun luar negeri (indirect export), serta familiar dengan transaksi elektronik atau marketplace.

Upaya LPEI mempertemukan UKM binaan dengan pembeli luar negeri pada acara TEI dapat menjadi peluang besar bagi UKM untuk melangkah menjadi eksportir secara langsung. Dalam acara ini, sejumlah UKM juga berhasil melakukan kerja sama dengan pembeli luar negeri.

PT Fahmi Bintang Andalas Bersaudara, salah satu UKM binaan LPEI telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) ekspor dengan Arabia Intiqaa Trading SDN BHD asal Yaman senilai USD50 ribu atau Rp760,85 juta. MoU tersebut menyepakati perseroan akan memproduksi dan mengekspor material bangunan yaitu Boss Panel dari Indonesia ke Malaysia dan Mesir dengan jangka waktu lima tahun ke depan.

Boss Panel merupakan dinding panel ringan komposit yang diperkuat dengan fibercement sebagai kulit luar dan lapisan inti yang terdiri dari EPS dan Beton Agregat. Boss Panel dikenal lebih ringan 65 persen dibandingkan batu bata konvensional dan memiliki kelebihan antigempa serta lebih ramah lingkungan. Kerja sama ini akan berjalan mulai Desember 2018, sedangkan kontrak penjualan akan diperjelas dan mulai beroperasi dalam dua bulan mendatang.

Direktur PT Fahmi Bintang Andalas Bersaudara Farid Fahmi mengatakan sangat terbantu setelah menjadi mitra binaan LPEI. Setelah mengikuti CPNE, usaha yang dilakukan oleh PT Fahmi Bintang Andalas Bersaudara semakin berkembang menjadi lebih baik lagi.

"Dengan adanya LPEI, saya bisa bertemu teman-teman UKM lainnya yang menambah semangat saya untuk mengembangkan produk ekspor yang lebih bermutu lagi," kata Farid Fahmi.




Peran LPEI di TEI 2018

Dalam upaya memajukan ekspor nasional, LPEI bersinergi dengan Kementerian Perdagangan (Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional) yang dituangkan dalam penandatanganan nota kesepahaman mengenai kerja sama dalam pengembangan ekspor.

Nota Kesepahaman tersebut bertujuan untuk meningkatkan daya saing, menambahkan jumlah pelaku ekspor melalui program, serta bentuk dukungan berupa fasilitas kepada para pelaku usaha berorientasi ekspor.

Pada acara TEI 2018, LPEI menjadi salah satu sponsor resmi "Export Financing Support" dan merupakan narasumber pada acara diskusi regional serta beberapa acara lain termasuk seminar, senior officials meeting, business counselling, dan business matching.

LPEI bertugas sesuai mandat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2009 sebagai pendukung ekspor Indonesia melalui fasilitas pembiyaan, penjaminan, asuransi ekspor, dan jasa konsultasi. Prioritas pembiayaan LPEI adalah mempertahankan kemampuan industri padat karya, menumbuhkan multiplier effects ekonomi rakyat, dan mengembangkan chanelling produk Indonesia di pasar ekspor.




TEI 2018 Melampaui Target

Menteri Perdagangan Republik Indonesia Enggartiasto Lukita sebelumnya mengatakan penyelenggaraan TEI 2018 berjalan sukses. Selama lima hari, transaksi yang diperoleh mencapai USD8,45 miliar atau setara Rp126,77 triliun. Nilai ini meningkat lima kali lipat dari target yang telah ditetapkan sebelumnya oleh pemerintah. "Penghitungan masih terus berjalan dan dipastikan hasilnya akan bertambah," ujar Enggartiasto Lukita.

Nilai transaksi TEI 2018 terdiri dari transaksi investasi sebesar USD5,55 miliar, transaksi pariwisata sebesar USD170,5 juta, dan transaksi produk dengan total USD2,73 miliar. Adapun rincian transaksi produk tersebut terdiri atas transaksi produk barang dan jasa masing-masing sebesar USD1,42 miliar dan USD1,31 miliar.

Transaksi produk barang berasal dari transaksi nota kesepahaman (MoU) misi pembelian produk sebesar USD811 juta, transaksi langsung saat pameran USD470,65 juta, misi dagang lokal USD85,6 juta, business matching USD51,29 juta, serta Pameran Kuliner dan Pangan Nusantara USD680 ribu.

Pada acara TEI tahun ini, tercatat jumlah pengunjung sebanyak 28.155 orang dari 132 negara. Jumlah ini meningkat sebesar 1,6 persen dibandingkan tahun lalu yang sebanyak 27.711 orang dari 117 negara. Dari jumlah tersebut, pengunjung mancanegara mencapai 5.183 orang dengan jumlah terbanyak berasal dari Malaysia (371 pengunjung), Arab Saudi (312 pengunjung), Afghanistan (276 pengunjung), Tiongkok (273 pengunjung), dan Jepang (239 pengunjung).


(AHL)