Beras Impor untuk Stok saat Kemarau

   •    Senin, 17 Sep 2018 11:33 WIB
beras impor
Beras Impor untuk Stok saat Kemarau
Ilustrasi. (FOTO: Medcom.id)

Jakarta: Pedagang beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) mengkhawatirkan ketersediaan beras dalam satu atau dua bulan ke depan. Hal itu terkait dengan datangnya musim kemarau yang akan berimbas pada produksi beras.

Ketua Umum Koperasi Pasar Induk Beras Cipinang Zulkifli Rasyid mengatakan kejadian buruk pernah menerpa pada akhir 2016. Saat itu stok beras kurang meski Kementerian Pertanian (Kementan) mengatakan produksi surplus.

"Pada akhir 2016 menuju awal 2017, stok kita kurang. Kementerian Pertanian bilang beras surplus, tetapi di pasar langka," ujar Zulkifli kepada Media Indonesia, Minggu, 16 September 2018.

Ia pun menyambut baik kejelian pemerintah yang kini berani membuka keran impor beras sebelum kelangkaan stok terjadi. Dengan adanya tambahan persediaan beras impor, ia meyakini stok beras akan aman hingga awal tahun mendatang.

"Sekarang kita memang punya stok, tetapi nanti kemarau pasti persediaan akan berkurang. Itulah fungsi dari beras impor, untuk mengisi stok ketika kemarau, untuk stabilisasi harga," ucapnya.

Saat ini, stok beras di PIBC tercatat sebesar 43 ribu ton dengan pemasukan dan pengeluaran yang seimbang, yakni sekitar 3.000 ton per hari.

Dari Cirebon dilaporkan, stok beras yang dimiliki Bulog Cirebon masih mencukupi hingga akhir tahun. Namun, penyerapan sudah mulai berkurang.

Kepala Bulog Subdivisi Cirebon, Dedi Apriliyadi, menjelaskan saat ini stok yang ada di sejumlah gudang mereka mencapai 58.800 ton beras.

Sekalipun stok mencukupi, untuk penyerapan yang mereka lakukan saat ini, menurut Dedi, jumlahnya terus berkurang. Saat panen gadu (kemarau) lalu, mereka bisa menyerap hingga 500 ton dalam sehari. Namun, saat ini hanya di kisaran 50 hingga 60 ton sehari, bahkan bisa kurang dari jumlah tersebut.

Kepala UPT Pasar Induk Pasirhayam Cianjur, Asep Kusmiyadi, mengatakan saat ini harga beras relatif stabil. Namun, untuk beras jenis premium, trennya mulai menurun dari semula di kisaran Rp10.200 per kg.

"Makin ke sini harganya terus turun. Memang selisihnya tak besar, hanya Rp100 hingga Rp200 per kg," ujar Asep. (Media Indonesia)

 


(AHL)


PPN Avtur Indonesia Sudah Kompetitif

PPN Avtur Indonesia Sudah Kompetitif

2 days Ago

Perlakuan pengenaan pajak pendapatan nilai (PPN) untuk avtur bagi penerbangan domestik di Indon…

BERITA LAINNYA