Ditjen Bea Cukai Tekan Peredaran Rokok Ilegal 7,04%

Eko Nordiansyah    •    Selasa, 07 Aug 2018 15:33 WIB
rokok
Ditjen Bea Cukai Tekan Peredaran Rokok Ilegal 7,04%
Rokok. MI/Panca.

Jakarta: Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) berhasil menekan jumlah peredaran rokok ilegal di Indonesia. Bahkan peredaran rokok ilegal telah diturunkan dari sebelumnya sebesar 12,4 persen menjadi 7,04 persen selama 2018 ini.

"Ini bisa meningkatkan penjualan rokok legal, (pemberantasan rokok ilegal) ini terus menurun sepanjang tahun ini," kata Pelaksana tugas (Plt) Direktur Teknis dan Fasilitas Cukai Nugroho Wahyu Widodo di Kantor Ditjen Bea Cukai, Jakarta Timur, Selasa, 7 Agustus 2018.

Menurut dia, upaya yang dilakukan pemerintah Indonesia ini lebih baik dibandingkan dengan negara tetangga. Pasalnya di Malaysia rokok ilegal mencapai 50 persen, sementara di Brunei Darussalam jumlahnya bisa mencapai 70 persen.

"Di Malaysia rokok ilegal 50 persen, Singapura juga sama demikian. Brunei Darussalam bahkan memiliki tingkat rokok ilegal yang lebih tinggi dari rokok legal, dengan lebih dari 70 persennya," jelas dia.

Dirinya menambahkan, Malaysia menjadi negara yang paling banyak menjual rokok ilegal. Oleh karena itu, menurut Nugroho, upaya pemerintah menurunkan jumlah rokok ilegal yang beredar di Indonesia merupakan sebuah kebanggaan.

Selain itu, pembelian rokok legal juga akan menambah penerimaan negara dari cukai yang dikenakan. Bayangkan saja, dari sebungkus rokok seharga Rp20 ribu maka sumbangan cukai yang diterima oleh negara mencapai Rp13 ribu per bungkusnya.

"Kalau bapak beli rokok Rp1.000 itu Rp650 buat negara. Jadi kalau bapak beli rokok yang sebungkus Rp20 ribu maka Rp13 ribu untuk negara. Jadi terima kasih," pungkasnya.


(SAW)