PT Garam dan BPPT Siap Kelola Lahan 225 Ha Garam

Kautsar Widya Prabowo    •    Selasa, 05 Jun 2018 17:05 WIB
pt garam
PT Garam dan BPPT Siap Kelola Lahan 225 Ha Garam
Ladang Garam. ANT/Umarul Faruq.

Jakarta: PT Garam (Persero) bersama Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) telah mendapat izin mengolah dan mendirikan pabrik di lahan seluas 225 hektare di Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk pengolahan garam.

Direktur Operasi PT Garam (Persero) Hartono menjelaskan sudah ada titik terang dari pemerintah Kupang, yang telah mengakui lahan tersebut telah berstatus Hak Guna Usaha (HGU) setelah sebelumya terkesan terjadi kesalahpahaman dengan Bupati Kupang.

"Kamis atau Jumat di Kupang ada pertemuan untuk mengerucutkan masalah yang terkesan ada miskomunikasi, tapi sudah ada titik terang Bupati sudah mau mengakui lahan  sebagai HGU," ujarnya usai melakukan Koordinasi dengan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta, Selasa, 5 Juni 2018.

Ia menjelaskan pertemuan di Kupang tersebut untuk memenuhi persyaratan yang harus diselesaikan untuk meresmikan HGU. "HGU resmi baru bisa dikeluarkan, kita baru bisa bergerak paralel dengan adanya amdal. Amdal membutuhkan waktu enam bulan," tambahnya.

Lebih lanjut pihaknya menenjelaskah lahan seluas 225 ha akan dilakukan di desa Bipolo dan Nunkurus. Namun lahan tersebut masih dalam kategori kecil jika dibandingkan produktivitas 100 ton, tapi dengan pengolahan yang maksimal pabrik BPPT dapat menekan impor garam.

"Kalau 225 ha kecil, misal produktivitas sekitar 100 ton dikalikan menjadi 22.500 ton, tapi dengan peningkatan olahan pabrik yang dibuat BPPT untuk jadi garam industri, minimal bisa menekan importasi garam," tuturnya.

Lebih lanjut, Hartono menjelaskan dengan menggunakan teknologi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, lantaran teknologi KKP dipercaya dapat memangkas waktu produksi garam mentah menjadi garam produksi.

"Kita sudah bekerja sama dengan KKP, jadi biasanya butuh waktu 70 hari. Kalau gunakan teknologi itu enggak sampai selama itu," tutupnya.
(SAW)